Seorang Muslim harus selalu mawas diri, dan tidak pernah berhenti untuk muhasabah diri.

Hal ini berbalik 180° dari keberadaan orang-orang munafik.
Mereka seperti nampak menakjubkan dhohirnya, tapi rusak b\tinnya.
Alloh menerangkan sifat meteka,

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ ۖوَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۖكَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ ۖيَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ ۚهُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ ۚقَاتَلَهُمُ الَّهُ ۖأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?”(Al-Munafikun : 4)

Mereka membanggakan dhohir fisik dan lisannya yang bisa membuat takjub dan terkesima orang lain ang melihatnya.

Padahal mereka itu menyembunyikan kedengkian dan permusuhan dihatinya.
Mereka itu adalah musuh Alloh yang nyata.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.”(Al-Baqoroh : 204)

Dan seorang muslim tidak bokeh ujub dan membanggakan dirinya.
Tapi harus selalu memperbaiki dirinya kapanpun dan dimanapun.

Ibnul Qoyyim berkata,

“Diantara tanda kembalinya seorang hamba kepada Allah dengan benar adalah; tidak merendahkan orang-orang yang berkubang dalam kelalaian dan tidak mengkhawatirkan keadaan mereka dalam keadaan di saat yang sama engkau membuka pintu harapan bagi dirimu, maksudnya engkau mengharapkan rahmat bagi dirimu dan mengkhawatirkan adzab akan menimpa orang-orang yang tenggelam dalam kelalaian itu…

Yang tepat adalah; harapkanlah rahmat untuk mereka dan takutlah jangan sampai justru engkaulah yang akan tertimpa adzab. Kalaupun terpaksa mencela mereka maka hendaklah engkau lebih keras mencela dirimu dibandingkan celaan terhadap mereka dan lebih mengharapkan rahmat Allah bagi mereka dibandingkan untuk dirimu.”(Hayaatus Salaf, hal. 782)

Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc.