Allah telah mencela sikap lalai di dalam kitab-Nya, dan menggambarkan bahwa lalai adalah akhlak tercela yang merupakan salah satu akhlak orang-orang kafir dan munafik. Allah pun memperingatkan tentang kelalaian dengan peringatan yang keras, sebagaimana firmannya,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan sesungguhnya, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (Al-A’raf: 179)

👤 Al-Imam Ibnu Qayyim رحمه الله berkata :

الغفلة نوم القلب، ولذلك تجد كثيرا من الأيقاظ في الحس نياما في الواقع، فتحسبهم أيقاظا وهم رقود.

“Kelalaian adalah tidurnya hati, oleh karena itulah Anda menjumpai banyak orang-orang yang terjaga indranya, namun kenyataannya (hati) mereka tertidur, jadi Anda menyangka mereka terjaga, padahal sebenarnya mereka tertidur.”
📚 Madarijus Salikin, 3 : 384

📌Takutnya para Salaf jika tenggelam dalam kelalaian
Abu ‘Ali Ad-Daqqaq bercerira:
“Suatu ketika aku datang mengunjungi orang saleh yang sedang sakit. Beliau termasuk salah seorang masyayikh besar. Ketika itu beliau dikelilingi oleh murid-muridnya, dan sedang menangis, beliau adalah seorang syaikh yang sudah lanjut usia. Aku bertanya kepadanya:
ايها الشيخ مم بكاؤك أعلى الدنيا ؟
“Wahai syaikh, apa yang membuat engkau menangis, apakah mengenai persoalan dunia?”
Dia menjawab :
كلا بل أبكى على فَوْت صلاتى
“Bukan, akan tetapi aku menangis karena ‘kehilangan’ shalatku.”
Aku kembali bertanya:
وكيف ذلك وقد كنتَ مصليا ؟
”Bagaimana hal itu bisa terjadi, padahal Engkau adalah orang yang rajin mendirikan shalat?”
Dia menjawab:
لانى قد بقيتْ يومى هذا وما سجدت الا فى غفلة، ولا رفعت رأسى الا فى غفلة، وما أنا أموت على الغفلة
”Karena sungguh (sekarang) inilah sisa hariku, sementara tidak lah aku bersujud kecuali dalam keadaan lalai (dari mengingat Allah), tidaklah aku mengangkat kepala kecuali dalam keadaan lalai, dan tidaklah aku (suka) mati dalam keadaan lalai.
📚Mukasyafatul Qulub, hal 17/1, Imam Al Ghazali.

Wallahu a’lam.

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc