Jika ingin keselamatan, Taatilah Sunnah Rasululloh

Ketaatan dalam mengikuti Sunnah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ merupakan sumber segala kebaikan dan keselamatan, sedangkan penyimpangan dan pengingkaran atas sunnah Rasulullah merupakan jalan kehancuran dan kerusakan.

Allah سبحانه وتعالى telah memerintahkan kaum muslimin untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya. Firmannya:
يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا.
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa’:59)

Dalam ayat yang lain Allah memberikan ancaman bagi mereka yang menyelisihi perintah atau sunnah Rasul-Nya,
فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم.
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.”(An-Nur:63)

Berkata Al-Imam Ath-Thobari,”Allah akan menimpakan azab bagi mereka yang menyimpang dari perintah atau sunnah Rasulullah dengan fitnah atau azab. Adapun fitnah bagi mereka yang terjerumus kedalam penyimpangan sunnah Rasulullah itu berupa kesyirikan atau kefasikan. Sedangakan Azab bagi mereka yang menyimpang dari perintah atau sunnah Rasulullah disegerakan didunia dengan tiba-tiba juga azab yang pedih di akherat.”

Allah menjadikan jalan yang benar dan jalan yang lurus adalah jalan yang dibawa oleh Rasulul-Nya. Dan itulah jalan yang selamat, sedangkan jalan-jalan yang lain adalah jalan kesesatan yang mengantarkan kepada kerusakan dan kehancuran sehingga pelakunya akan binasa mendapatkan siksaan dari Allah. Allah befirman,
وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله ذلكم وصاكم به لعلكم تتقون.
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.”(Al-An’am:153)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله mengatakan, ”Intisari agama ini terdapat pada dua prinsip yaitu, kita tidak beribadah kecuali kepada Allah dan kita tidak beribadah kepada-Nya kecuali dengan apa yang Allah syariatkan.”
Allah Ta’ala berfirman: فَمَنْ كَان
َ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa berharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.”(Al-Kahfi:110)
Ibnu Katsir رحمه الله berkata dalam tafsirnya,”Inilah dua rukun amal yang diterima. Amal tersebut harus dilaksanakan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan syariat Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.”(Kun Salafiyyan)

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata, “Barangsiapa yang merenungkan keadaan alam semesta dan berbagai keburukan yang terjadi padanya, niscaya dia akan menyimpulkan bahwa segala keburukan di alam semesta ini sebabnya adalah menyelisihi rasul dan keluar dari ketaatan kepadanya. Demikian pula segala kebaikan yang ada di dunia ini sebabnya adalah ketaatan kepada rasul.” (adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [2/236-237]).
Wallahu a’alam