Allah memerintahkan hambanya untuk selalu menjaga kesabaran dalam ketaatan,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا.
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”[Al-Kahfi: 28]

Bwrkata Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar,
Bersabarlah kamu dan teguhlah bersama-sama orang-orang lemah yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hanya karena beribadah dan mengharap keridhaan-Nya. Janganlah palingkan kedua matamu kepada mereka yang mengharapkan perhiasan dunia ini. Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari dzikir dan mengingat Alquran juga mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan melewati batas. Ayat ini turun untuk kumpulan petinggi Qurays yang meminta Nabi untuk membersihkan majlis dan sahabatnya dari orang-orang miskin, agar mereka dibuatkan tempat dan perkumpulan khusus untuk mereka.
(Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar)

Para ulama membagi sabar menjadi tiga macam, yaitu kesabaran dalam ketaatan, meninggalkan maksiat, serta menghadapi musibah dan takdir Allah yang tidak disukai.
Dan jenis sabar yang paling tinggi adalah sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah. Sebab, ketaatan itu lebih utama dari meninggalkan maksiat.

Ujian kesabaran dalam menjalankan ketaatan diakhir zaman semakin berat, namun semakin berlipat ganda pahalanya. Sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi, 2260 dihasankan Al-Albany).

Berkata Al-Mubarokfury رحمه الله menjelaskan tentang permasalahan tersebut:
Di akhir zaman tersebut, sedikit sekali orang yang berpegang teguh dengan agama hingga meninggalkan dunianya, srhingga ujian dan kesabarannya begitu berat. Ibaratnya seperti seseorang yang memegang bara api.

Al-Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata:
“Sebab yang menjadikan generasi pertama (para sahabat) sebagai generasi terbaik adalah karena mereka ghuroba’ (orang-orang yang asing, minoritas) dalam keimanan mereka disebabkan banyaknya orang- orang kafir ketika itu, dan karena
kesabaran mereka atas penderitaan yang mereka hadapi serta berpegang teguhnya mereka dengan agama.
Demikianlah generasi akhir mereka (umat Islam yang meneladani para sahabat di akhir zaman), apabila mereka menegakkan agama, berpegang teguh dengannya dan bersabar dalam ketaatan kepada Allah ketika kemaksiatan dan berbagai macam cobaan semakin merajalela, maka mereka juga termasuk ghuroba’ dan amalan mereka berlipat ganda di masa tersebut sebagaimana amalan
generasi pertama juga berlipat ganda, 

Hal ini dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه secara marfu’ (sampai kepada Rasulullah) 

ﺑﺪﺃ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻏﺮﻳﺒﺎ ﻭﺳﻴﻌﻮﺩ ﻏﺮﻳﺒﺎ ﻛﻤﺎ ﺑﺪﺃ ﻓﻄﻮﺑﻰ ﻟﻠﻐﺮﺑﺎﺀ
Islam bermula dalam keadaan asing (di tengah-tengah manusia) dan akan kembali terasing sebagaimana ia bermula, maka beruntunglah al-ghuroba’.”[Fathul Bari, 7/9]

Karena sedikitnya manusia yang istiqomah dalam ketaatan diatas yang hak, menjadikan mereka terasing dan dimusuhi oleh sebagian besar manusia.
Sehingga Allah melipat gandakan pahala bagi mereka karena beratnya menjalankan ketaatan saat itu.

Wallahu a’lam

Open chat