bertemu dua lautDiantara Pengetahuan Ilmiah dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman,
مرج البحرين يلتقيان. بينهما برزخ لا يبغيان.
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” (Ar-Rohman: 19-22)
Ketika turun ayat ini pada abad 6 Masehi kepada Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم , belum ada satupun alat yang bisa mendeteksi tentang gejala ini. Rasulullah juga bukan seorang pelaut, nenek moyang beliau dari Qurays juga bukan pelaut. Tapi, begitu terperinci berita ini beliau sampaikan, hal ini sebagai bukti bahwa Al-Qur’an itu betul-betul wahyu dari Allah سبحانه وتعالى dan bukan karangan Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Sejarah oseanografi menyatakan satu fakta bahwa tidak ada informasi yang akurat tentang samudra dan lautan pada empat belas abad yang lalu. Namun, Alquran memberikan penjelasan yang akurat dan lengkap tentang daerah-daerah muara sungai dan, menunjukkan karakteristik daerah yang unik ini. Alquran menjelaskan bahwa dengan gerakan air tiada henti di wilayah seperti ini, daerah muara sungai menciptakan penghalang antara air manis sungai dan air asin laut. Deskripsi Alquran ini telah diberikan lama sekali sebelum penemuan teknologi modern .
Kapten Jacques Yves Costeau, seorang ahli Oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis menceritakan peristiwa yang sangat menakjubkan : Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya. Fenomena ganjil itu membuat pusing Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.  Sehingga dia menulis,

“Pada tahun 1962 ilmuwan Jerman mengatakan bahwa air Laut Merah dan Samudera Hindia tidak menyatu satu dengan yang lain di Selat dari Bab-ul-Mandab di tempat Teluk Aden dan Laut Merah bertemu. Jadi kami memulai untuk memeriksa apakah air dari Samudra Atlantik dan Mediterania bertemu satu sama lainnya. Pertama kita menganalisis air di Mediterania untuk mengetahui habitat, salinitas dan densitas, dan apa yang hidup di dalamnya. Kami mengulangi prosedur yang sama pada Samudera Atlantik. Dua jenis air telah bertemu masing-masing lain dalam Gibraltar selama ribuan tahun. Dengan demikian dua jenis air pasti telah bercampur dengan satu sama lainnya dan mereka pasti sudah berbagi identik, atau, paling tidak, sama salinitas dan densitasnya. Sebaliknya, bahkan di tempat di mana ada dua laut yang paling dekat dengan satu sama lain, setiap jenis air bahkan seperti dibiarkan terpisah. Dengan kata lain, pada titik di mana dua lautan bertemu, ada sebuah tirai air yang mencegah air masuk ke dalam dua laut dari pencampuran. Ketika saya memberitahu Profesor Maurice Bucaille tentang fenomena ini, ia mengatakan bahwa dia tidak terkejut dan bahwa itu dsebutkan dengan jelas dalam Kitab Suci Islam, Al-Qur’an al-karim. Memang, fakta ini didefinisikan jelas dalam bahasa dalam Al-Qur’an al-karim. Ketika aku mengetahuinya, saya percaya fakta bahwa Al-Qur’an al-karim adalah ‘Firman Allah’. Saya memilih Islam, agama yang benar. Potensi spiritual yang melekat dalam Agama Islam memberi saya kekuatan untuk menahan rasa sakit atas penderitaan karena kehilangan anakku.”

Wallahu a’lam.
Sumber: Artikel Tio Alexander; artikel Islam and science, Prof. Maurice Bucaille