Dari ‘Abdullah Ibnu Umar, Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bersabda:

إذا تبايعتُم بالعِينةِ ، و أخذتُم أذنابَ البقرِ ، و رضِيتُم بالزَّرعِ ، و تركتُمُ الجهادَ سلَّط اللهُ عليكم ذُلًّا ، لا يَنزِعُه حتى ترجِعوا إلى دِينِكم

“Apabila kalian telah berjual beli dengan cara Al-Inah dan kalian telah ridho dengan pertanian dan kalian telah mengikuti ekor-ekor sapi (-peternakan-) dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu kehinaan yang (Allah) tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian”.(HR. Abu Daud dan lain-lainnya, dishohihkan Al-Albany, Ash-Shohihah; No.11).

Diantara faedah yang sangat berharga untuk kita renungkan dari hadits ini adalah kerendahan dan kehinaan yang menimpa umat Islam tidak lain disebabkan karena penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan.

Sebagiamana orang-orang Ahlul Kitab sebelum ini, seperti orang-orang Yahudi juga ditimpakan kehinaan oleh Allah karena penyimpangan-penyimpangan mereka. Sebagaimana firmannya,

فبظلم من الذين هادوا حرمنا عليهم طيبات أحلت لهم وبصدهم عن سبيل الله كثيرا.

“Maka disebabkan kedzaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. (An-Nisa-160).

Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (An-Nisa:161).

Jika sekarang kenyataan Ummat Islam terhina dan terjajah dihampir semua negeri mereka, maka kita harus mengintrospeksi diri, apakah yang salah dalam diri ummat Islam sekarang ini.

Dari hadits diatas ummat Islam juga akan mengalami seperti nasibnya Ahlul Kitab sebelum ini dikarenakan kemakksiyatan dan penyimpangannya, diantaranya:

1. Jual beli dengan cara Inah atau jual beli dengan cara riba. Adapun pengertian jual beli inah adalah seseorang menjual suatu barang dengan harga tertentu secara kredit lalu ia kembali membelinya dari pembeli dengan harga yang lebih sedikit secara kontan. Hakikatnya ia tidaklah dianggap sebagai jual beli, melainkan hanya sekedar pinjaman riba tapi dikemas dengan transaksi jual beli. Hal ini tidak akan menghilangkan hakikat keharaman dari unsur ribanya.

2. Ridho dengan harta pertaniannya.

3. Ridho dengan usaha peternakannya (yaitu dengan mengikat ekor-ekor sapi).

Hadits ini tidaklah bermakna melarang Ummat Islam untuk mencari harta dari hasil pertanian atau dari usaha peternakan. Tetapi larangannya bersifat berlebihan dalam mencintai harta-harta itu sehingga meninggalkan jihad membela agama Allah.

Allah telah mengingatkan, “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (At-Taubah:24).

4. Akibat dari kedua dosa diatas akhirnya Ummat Islam meninggalkan Jihad fi Sabilillah, untuk membela agamanya dan muncul penyakit yang lebih bahaya lagi setelah itu yaitu Al-Wahn.

Dari Tsauban, Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bersabda, Hampir saja umat-umat (yang kafir) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ‘Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ‘wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud dan Ahmad, dishahih Al Albani no 4297).

Kerendahan dan kehinaan ini tidak akan dicabut oleh Allah dari ummat sampai mereka mau kembali kepada agamanya. Yaitu kembali menghidupkann sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم  dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari Islam baik itu berupa muamalah yang harom ataupun perkara yang menyimpang dari Islam berupa bid’ah-bid’ah yang diada-adakan tanpa ada dasarnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Wallau A’lam.

Sumber: Al-Mausu’ah fil hadits dan Al-Qur’an digital

Abu Yusuf Masruhin Sahal