Ketahuilah Penyebab Futur, dan Jauhilah

Futur (malas dalam beramal kebaikan) adalah salah satu penyakit hati. Sebagaimana penyakit fisik, yang munculnya disebabkan sesuatu hal demikian pula penyakit futur juga ada sebabnya. Tentunya mencegah datangnya penyakit lebih baik daripada mengobati penyakit ketika sudah datang menjangkit. Dan ketika penyakit dibiarkan akan semakin parah dan kronis sehingga semakin sulit untuk mengobatinya. Demikian pula penyakit futur, ketika sudah kronis akan membahayakan bagi yang terjangkit sehingga dia putus asa darinya. Maka dari itu hendaknya kita mengetahuinya lalu kita menjauhi dan menjaga darinya
Sebab munculnya Futur:
1, berlebihan dalam Din (Agama). Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,“Sesungguhnya Agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulitnya kecuali akan dikalahkan atau menjadi berat mengamalkannya.” (HR Muslim).
2, berlebih-lebihan dalam hal yang mubah. Allah berfirman, “Makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan. Sesuangguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al A‘raf: 31).
3, memisahkan diri dari jamaah. Mengedepankan hidup menyendiri dan berlepas dari jamaah. Jauhnya seseorang dari jamaah membuatnya mudah dimangsa syetan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Syetan itu akan menerkam manusia yang menyendiri, seperti serigala menerkam domba yang terpisah dari kawanannya.” (HR. Ahmad dihasankan Al-Albany dalam Al-Jami’).
4, sedikit mengingat akhirat. Banyak mengingat kehidupan akhirat membuat seseorang giat beramal. Selalu diingatakan adanya hisab atas setiap amalnya. Sebaliknya, sedikit mengingat akhirat menyulitkan seseorang untuk giat beramal.Ini disebabkan tidak adanya pemicu amal,yaitu untuk mendapatkan pahala di sisi Allah. Rasulullah bersabda: “Sekiranya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa. Para shahabat bertanya, “Apa yang Anda lihat wahai Rasulullah?” Aku telah melihat indahnya surga dan ngerinya neraka.” (HR. Muslim).
5, masuknya hal yang haram ke dalam dirinya. Mengkonsumsi sesuatu yang syubhat, apalagi haram. Rasulullah bersabda,”Barangsiapa menjaga diri dari syubhat, maka ia telah melindungi agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa terjerumus dalam syubhat, maka ia bisa terperosok dalam perkara yang haram.” (HR. Bukhari no. 52, dan Muslim no. 1599).
6, tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian. “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka hati-hatilah kamu terhadap mereka.” (Al Ahqaf: 14).
7, bersahabat dengan orang-orang yang suka bermaksiyat, lemah dan jelek agamanya. Rasulullah bersabda,”Seseorang sangat dipengaruhi teman dekatnya, maka hendaklah ia melihat (selektif) dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Daud dihasankan Al-Albany).
8, spontanitas dalam beramal dan tidak kontinyu. Amal yang tidak terencana, tidak memiliki tujuan sasaran dan sarana yang jelas, tidak dapat melahirkan hasil yang diharapkan. Karena itu setiap amal harus memiliki siasat amal (sistematika kerja). Hal ini akan membuat ringan dan mudahnya suatu amal. Karena itu, amal yang paling di sukai Allah adalah yang sedikit tapi kontinyu. Rasulullah ber4esabda,”Lakukanlah amal sesuai dengan kemampuanmu karena sesungguhnya Allah tidak merasa bosan sehingga kamu sendiri merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah ialah yang dilakukan secara rutin walau pun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim).
9, jatuh dalam kemaksiatan. . Perbuatan maksiat membuat hati tertutup dengan kefasikan. Jika kondisi ini terjadi, sulit diharapkan pada seorang juntuk beramal yang lebih baik. Karena itu, tatkala Imam Syafi’i duduk di hadapan Imam Malik untuk belajar, Imam Malik sangat kagum akan kecerdasan dan daya hafalnya hingga beliau bertutur, “Aku melihat Allah telah menyiratkan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat. “Imam Syafi’i bertutur, Aku mengadu tentang kelemahan hafalanku yang buruk. Dia memberiku bimbingan untuk meninggalkan kemaksiatan seraya berkata, ‘Ketahuilah, ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada si pelaku dosa dan kemaksiatan”
10, menyia-nyiakan waktu dengan perbuatan yang sia-sia. Rasulullah bersabda,”Diantara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.”(HR Tirmidzy disohihkan Al-Albany) اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك Wallau a’lam.
Sumber: Muhadhoroh Syaikh Muhammad Hasan; Al-Mausu’ah Syaikh Solih Munajjid;Al-Mausuah filhadits