Ma’qil Ibnu Yasar Radliyallaahu ‘anhu berkata:

سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ( مَا مِنْ عَبْدِ يَسْتَرْعِيهِ اَللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اَللَّهُ عَلَيْهِ اَلْجَنَّةَ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Seorang hamba yang diserahi Allah untuk memimpin rakyat lalu ia mati pada hari kematiannya ketika ia menipu rakyatnya Allah pasti akan mengharamkannya masuk surga.” Muttafaq Alaihi.

Faedah hadits,
1. Hadits ini mengandung ancaman yang keras bagi penguasa yang tidak mempedulikan urusan rakyatnya, dan tidak melihat kepada apa yang menjadikan baiknya kebutuhan mereka yang khusus
2. Ancaman yang keras dan adzab yang pedih bagi mereka para penguasa yang khianat kepada rakyatnya.
3. Diantara bentuk pengkhianatan itu:
– menarik pajak dan cukai untuk merampas harta mereka
– merampas hak pribadi mereka dengan berbagai alasan
– menutup diri dari melayani keluhan mereka
– membiarkan berkeliarannya para perusak mereka.
– mengangkat para pembantu yang tidak berkompeten
4. Hadits-hadits ini menunjukkan, penguasa yang berkhianat kepada rakyaknya termasuk dosa besar.
5. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam Siyasah Syar’iyyah, bahwa kekuasaan merupakan amanah yang wajib ditunaikan.
Nabi صلى الله عليه وسلم betsabda,
“Ketika disia-siakan amanah maka tunggulah saat kehancuran. Ditanyakan kepada beliau, “Apa bentuk penyia-nyiaannya?”
Kata beliau,
“Bila suatu urusan diserakan bukan kepada ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya”(HR Al-Bukhory, 59)
6. Penguasa adalah wakil Allah atas hamba-hambanya, dan mereka adalah pengendali hamba-hamba atas diri mereka.
Sehingga maksud dari kekuasaan itu adalah memperbaiki urusan agama makhluknya yang jika hal itu terluput sungguh dia telah merugi dengan kerugian yang besar.
Tidak bermanfaat kenikmatan yang telah mereka dapatkan didunia .
Dan mereka wajib memperbaiki urusan agama yang dengannya menjadi lurus urusan dunianya.

Apabila seorang penguasa bersungguh-sungguh memperbaiki urusan agama dan urusan dunia rakyatnya sebatas kemampuannya, maka hal itu menjadikannya seutama-utama manusia di zamannya dan dia termasuk orang yang berjihad di jalan Allah.

Telah diriwayatkan hadits,
يوم من إمام عادل أفضل من عبادة ستين سنة
“Akan ada suatu zaman dimana seorang pemimpin yang adil pada saat itu lebih mulia dari orang yang beribadah selama 60 tshun.”(HR Ath-Thobrony, 11/337)

Didalam musnad Ahmad, no. 10790 dari Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Makhluk yang paling dicintai Allah adalah Pemimpin yang adil, sedangkan yang paling dibenci oleh Allah adalah pemimpin yang dholim.”

🍂Diterjemahkan secara ringkas dari Taudhihul Ahkam, Syaikh Abdullah Ali Bassam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc