Menjaga pandangan mata dari memandang hal-hal yang diharamkan oleh Allah merupakan akhlak yang mulia, bahkan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjamin masuk surga bagi orang-orang yang salah satu dari sifat-sifat mereka dalah menjaga pandangan.

Allah سبحانه وتعالى telah memerintahkan orang-orang mukmin baik laki-laki atau wanita untuk menundukkan pandangan mereka. Firman-Nya,
قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم ويحفظوا فروجهم ذلك أزكى لهم إن الله خبير بما يصنعون. وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن.
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya…”(An-Nur:30-31)

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga telah memerintahkan kaum muslimin untuk menundiukkan pandangannya. Dari Abu Umamah رضي الله عنه berkata,”Saya mendengar صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
اُكْفُلُوا لِي بِسِتٍ أَكْفُلْ لَكُمْ بِالْجَنَّةِ, إِذَا حَدَّثَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَكْذِبْ, وَ إِذَا اؤْتُمِنَ فَلاَ يَخُنْ, وَ إِذَا وَعَدَ فَلاَ يُخْلِفْ, غُضُّوْا أَبْصَارَكُمْ, وَكُفُّوْا أَيْدِيَكُمْ, وَاحْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ
“Berilah jaminan padaku enam perkara, maka aku jamin bagi kalian surga. Jika salah seorang kalian berkata maka janganlah berdusta, dan jika diberi amanah janganlah berkhianat, dan jika dia berjanji janganlah menyelisihinya, dan tundukkanlah pandangan kalian, cegahlah tangan-tangan kalian (dari menyakiti orang lain), dan jagalah kemaluan kalian.”(HR As-Suyuthi dalam Al-Jami disohihkan Al-Albany, 1225)

Bahayanya Tidak Menjaga Pandangan Mata.
Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
العَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَّظْرُ
“Dua mata berzina, dan zina keduanya adalah pandangan”(HR As-Suyuthi dalam Al-Jami’ disohihkan Al-Albvany, 4150)

tundukkan pandangan3
Ibnu ‘Athiyyah رحمه الله berkata : “Pandangan adalah pintu yang paling besar menuju hati, paling banyaknya jalan indra adalah dari pandangan. Dan senang memandang adalah sebab sering terjatuh dari kedudukannya, sehingga wajib meninggalkannya.” (al Muhararul wajis fi Tafsiril Kitabil ‘Aziz karya Ibnu ‘Athiyyah (11/294).
Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata : “Sesungguhnya pandangan itu melahirkan kecintaan, maka dimulai dari keterkaitan hati dengan yang dipandang. Kemudian menjadi kuat sehingga akhirnya menjadi cinta, yang menyebabkan hati senantiasa mengingatnya dan tidak mau melepaskan. Kemudian menjadi kuat sehingga sangat cinta, cinta yang berlebih-lebihan kemudian menguat dan menjadi mabuk cinta, yaitu cinta dari lubuk hati yang paling dalam. Kemudian bertambah kuat dan akhirnya menjadi budak, yaitu hamba sahaya sehingga hati menjadi budaknya orang yang tidak pantas menjadi tuannya dan ini semua adalah kejahatan pandangan. Dan ketika itu hati menjadi tawanan setelah sebelumnya sebagai raja, dan menjadi terpenjara setelah sebelumnya bebas dari pandangan, dan dia mengeluhkan pandangannya, sedangkan pandangan mengatakan, “Saya adalah penuntunmu dan utusanmu, engkau telah mengutusku.” Maka diuji dengan kebutaan, sehingga tidaklah melihat kebenaran sebagai kebenaran, tidak pula bisa melihat kebathilan sebagai kebathilan, dan ini adalah perkara yang dirasakan oleh jiwa masing-masing orang. Karena hati seperti cermin dan nafsu seperti kotoran. Cermin akan menggambarkan hakikat gambar sebagaimana mestinya, tetapi apabila cermin itu kotor maka tidak akan menggambarkan sebagaimana mestinya.” (Ighatsatul Lahafan (1/47-48) Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam

Abu Yusuf