Jalan mendapatkan manisnya iman itu harus mau menempatkan kecintaan yang benar sesuai yang diajarkan oleh Alloh dan Rasulnya.

Dari Anas, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

“Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.”(HR Al-Bukhory, 16 dan Muslim, 60)

Ketiga sifat ini hanya akan ada jika seorang mukmin menyempurnakan keimanannya kepada kalimat tauhid لا إله إلا الله.

Orang-orang yang ingin mendapatkan manisnya iman harus membayar mahal untuk mewujudkannya.
Yaitu dia harus membayar seluruh hidupnya dengan kecintaan kepada Alloh dan Rasulnya melebihi dari yang lainnya.
Dia harus menempatkan cintanya kepada apapun dan siapapun ditimbangnya karena Alloh.
Kemudian dia harus mengubur semua bentuk kekafiran dan menumbuhkannnya menjadi keimanan yang penuh keikhlasan kepada Alloh.

Dan manisnya iman merupakan buah utama dari pohon tauhid
لا إله إلا الله.
Sebagaimana perumpamaan yang Alloh buat untuk ini,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ. تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik (iman) seperti pohon yang baik, akarnya menancap kuat (ke dalam tanah) dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap saat dengan izin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (Ibrahim: 24-25).
Wallohu a’lam.