Oleh : Al-Ustadz Masruhin Sahal, S, Pd.I
Sukses merupakan impian setiap manusia. Dalam memaknai sukses itu ada 3 kesimpulan utama, yaitu:
1. Para materialis. Golongan ini menganggap sukses itu hanya dalam takaran materi walaupun hati mereka pedih tanpa kebahagiaan. Bagi yang berkarier puncak kesuksesan adalah ketika seseorang sudah mencapai pucak kariernya.Bagi Pengusaha puncak kesuksesan adalah jika dia sudah berhasil mengumpulkan sebanyak-banyaknya sehingga menjadi yang miliarder. Bagi olahragawan jika sudah menjadi yang paling top didunia dia merasa orang paling sukses di dunia.
2. Para sufistik. Golongan ini menganggap sukses itu apabila mereka sudah bisa menghilangkan keduniaan dari dirinya walaupun mereka mengharuskan diri mereka untuk jatuh dalam kemiskinan sehingga mereka hanya sibuk dengan khayalan kholwat ibadahnya untuk mencapai akhirat saja.
3. Golongan yang mutawasith (pertengahan). Inilah golongan yang paling adil dalam memaknai kesuksesan. Bahwa sukses itu hanya bisa diperoleh dengan menggapai kebahagiaan dunia seberapaun dunia yang didapatkannya dan keridhoan Rabb-Nya di akhirat kelak.
Dari ketiga golongan itu, maka golongan yang pertengahan itulah yang paling berhak untuk menyandang sebagai Khalifah Allah dibumi. Sebagaimana firmannya :
وإذ قال ربك للملائكة إني جاعل في الأرض خليفة. البقرة:30.
Artinya: “Dan ingatlah tatkala Rabb-mu berkata kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku akan menjadikan Kholifah dipermukaan bumi”. Al-Baqoroh: 30.
Kedua golongan yang sebelumnya merupakan golongan yang melampaui batas, karena tidak berjalan sesuai amanah penciptaan manusia. Sebagaimana yang Allah pernah tawarkan amanah ini kepada langit, bumi, gunung-gunung, semuanya enggan untuk memikulnya karena mersa tidak mampu, maka majulah manusia untuk mengambilnya. Karena memang hanya manusia yang akan mampu memegang amanah itu.
Firman-Nya: “Sesungguhnya kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan mampu melaksakannya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia”. (Surat Al-Ahzab: 72).
Allah swt telah memrintahkan kita untuk menggapai perkara dunia dan akhirat, sebagaimana firmannya :
وابتغ فيما آتاك الله الدار الآخرة ولا تنس نصيبك من الدنيا. القصاص:77
Artinya: “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa-apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” Al-Qoshosh : 77
Makna Kata Sukses dalam Al-Qur’an
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat lebih baik dan kekal.” (Al-A’la: 14 – 17)
Siapakah orang yang tak ingin meraih kesuksesan? Tentunya, setiap orang mengidam-idamkan kesuksesan. Pada umumnya, masyarakat memahami arti kesuksesan identik dengan pencapaian cita-cita, harapan, serta keinginan. Simpelnya – Kata sukses berarti pencapaian keberhasilan atau keberuntungan atas wujud nyata dari apa-apa yang dicita-citakan.
Lantas bagaimana makna, “Sukses Menurut Al-Qur’an?” Dalam Alquran kata sukses terbagi menjadi 3 (tiga); al-falaah, an-najaat, dan al-fauz. Menurut tata bahasa, al-falaah berarti kemenangan, kelestarian, kekekalan, keberuntungan, dan kebertahanan hidup. An-najaat berarti keselamatan atau keterhindaran dari bencana serta kegagalan, dan terhalaunya hambatan. Adapun al-fauz berarti keberhasilan atau keberuntungan yang baik.

Dari ketiga kata yang bermakna sukses tersebut di atas, yang mendominasi disebut dalam Al-Qur’an adalah Al-falaah. Ini membuktikan pengertian secara bahasa dari kata Al-falaah sudah mencakup makna an-najaat dan al-fauz. Lebih dari 15 kali, kata Al-falaah disebutkan dalam Al-Qur’an, baik variasi ataupun derivasinya.
Beragam ayat dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan al-falaah, hampir rata-rata berisikan implementasi dan merefleksikan 5 hal tersebut di bawah ini.
1. Bebas dari hal-hal yang membuat rugi, sakit, dan memperburuk keadaan diri (An-najaat),
2. Mendapatkan dan meraih keadaan dan kondisi yang layak, baik dan sentosa (Al-falaah),
3. Tercapainya harapan serta cita-cita (Al-fauz),
4. Menang dan berhasil menaklukkan berbagai rintangan (Al-fauz wa an-najaat),
5. Menggapai ‘keabadian’ hidup (al-falaah), keberadaannya dikenang secara positif sepanjang sejarah, mendapatkan kehidupan damai (kekal) di dunia dan kehidupan akhirat.
Kesimpulannya, di dalam tafsir Alquran, kata Al-falaah dimaknai dengan keberhasilan, kemenangan dan kondisi kehidupan seorang hamba yang baik dan layak, baik dunia maupun akhirat. Itulah sekila tentang, “Sukses Menurut Al-Qur’an”.
Hakikat Kesuksesan dalam Al-Qur’an.
Allah swt Zat Yang Maha Mengetahui tentang mahluknya telah menerangkan secara konkrit tentang orang-orang yang sukses dan tidak akan merugi selama-selamanya. Hal itu tertuang secara lengkap dalam surat Al-“Ashr:
والعصر. إن الإنسان لفي خسر. إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر.
Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu betul-betul dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, dan beramal sholih, dan saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.”. Al-Ashr: 1-3
Berkata Al-Imam Asy-Syafi’i: Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kepada mahluknya selain surat ini niscaya hal itu sudah mencukupinya.
Karena keluasan makna dan kandungannya yang memastikan kesuksesan dan kerugian manusia itu terletak pada empat perkara itu.
Banyak teori untuk menggapai kesuksesan baik yang memandangnya dari sisi dunia maupun dari sisi akhirat saja. Tetapi bagi setiap Mukmin semua itu cukup kita kembalikan kepada sumber kebenaran yang hakiki yang tidak ada kesalahannya sedikitpun, yang datangnya dari Allah swt. Telah Ada empat kekuatan ajaib dalam kehidupan ini yang dapat mengantarkan ummat Islam pada kesuksesan dunia dan kesuksesan akhirat.Empat hal yang terlupakan, yang sebenarnya sudah ada rumusnya dalam ajaran agama Islam. Keempat rumus tersebur adalah Beriman, Beramal Sholih (kebaikan), Mengajak dan menasehati orang lain untuk kebenaran, dan Menasehatinya untuk bersabar. Jika empat ajaran ini dapat dipraktekan dengan benar, maka pintu kesuksesan dan kebahagiaan akan terbuka lebar.
Jalan Menuju Sukses Menurut Al-Qur’an
Setiap Insan pasti mendambakan kesuksesan dalam hidupnya, sukses dalam pekerjaan, sukses dibidang akademis, sukses dalam percintaan, dan sebagainya. Kita juga sebagai Orang Islam tentunya ingin sukses baik dikehidupan dunia maupun akhirat sebagaimana digambarkan dalam doa kita:
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
“Ya Rabb-kami berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat”.
Untuk meraih kesuksesan Dunia Akhirat itu, Allah telah menerangkan tips-tipsnya di dalam kitab-Nya yang Fenomenal yaitu Al-Qur’an, demikian pula Rasul-Nya yang terpercaya Muhammad saw dalam hadits-hadits yang shohih. Setidaknya ada beberapa ayat ataupun hadits yang menjelaskan tentang mereka yang beruntung, yang sukses وأولئك هم المفلحون (Mereka itulah orang-orang yang beruntung).
Berikut kunci untuk meraih sukses yang Allah janjikan.
1. Berilmu
Wahyu yang pertama turun adalah ‘Iqro’. Yang memerintahkan Rasulullah dan umatnya belajar. Rasulullah saw juga bersabda : أنتم أعلم بأمور دنياكم. متفق عليه
“Kalian lebih mengetahui tentang perkara-perkara dunia kalian. Muttafaq ‘alaih.”
Al-Imam ASy-Syafi’iy berkata :
من أراد الدنيا فعليه بالعلم ومن أراد الأخرة فعليه بالعلم ومن أرادهما فعليه بالعلم
Artinya: “Siapa yang menginginkan dunia maka dia harus berilmu, siapa yang menginginkan akhirat maka dia harus berilmu, dan siapa saja yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat) maka dia harus berilmu.”
2. Bertakwa dan bertawakkal
Allah swt berfirman :
ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب. ومن يتوكل على الله فهو حسبه. الطلاق:2-3
Artinya; “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya (Allah) akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluanya).” Ath-Tolaq: 2-3
Dari Umar bin Khoththob radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-sebenarnya tawakkal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada seekor burung yang pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi Dohihkan Al-Albany)
3. Istiqomah dan Memperbanyak Aktivitas yang positif dan bersungguh-sungguh
Allah swt telah berfirman :
إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا تتنزل عليهم الملائكة ألا تخافوا ولا تحزنوا وأبشروا بالجنة التي كنتم توعدون. فصلت:20
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Rabb-kami adalah Allah” kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” Fushshilat : 30
Firman-Nya: “timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), Maka Barangsiapa berat timbangan kebaikannya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A’raf: 8)
“…tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama Dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. dan mereka Itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung“(At-taubah: 88)
4. Mengikuti dan Meneladani Rasulullah serta Mentaati Perintah dan Hukum Allah
Allah swt berfirman : (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka[574]. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A’raf 157)
Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.(An-nur:51)
5. Bersyukur atas nikmat Allah
Firman Allah SWT :

لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
(jika kalian bersyukur , niscaya Aku akan menambah rezekimu, dan jika kamu mengkufuri nikmaku sungguh azabku sangat pedih)(QS. 14-Ibrahim; 7)
6. Memperbanyak Shodaqoh kepada Sanak Saudara, Kerabat dan Bersilaturrahmi
Firman-Nya: “Maka berikanlah kepada Kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan[1171]. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka Itulah orang-orang beruntung (Ar-Rum: 38)
Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dikenang bekasnya (perjuangan atau jasanya), maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR Muslim)
7. Menjauhi sifat kikir
Firman-Nya:”dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung (Al- Hasyr: 9, At-Taghabun: 16)
8. Berdoa.
Firma-Nya“Dan apabila hamba-hamba Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang-orang yang memohon kepada-Ku. Maka bermohonlah kepada-Ku dan berimanlah kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Al-Baqarah :186).
Dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi SAW Bersabda : “Barangsiapa hatinya terbuka untuk berdo’a, maka pintu-pintu rahmat akan dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan yang lebih disenangi oleh Allah daripada permohonan orang yang meminta keselamatan. Sesungguhnya do’a bermanfa’at bagi sesuatu yang sedang terjadi dan yang belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak taqdir kecuali do’a, maka berpeganglah wahai hamba Allah pada do’a”. (HR Turmudzi dan Hakim)
Wallahu A’lam bish-showab.
Disampaikan di Holcim Malam, 31 Desmber 2013
Maraji’:
1. Tafsir Ibnu Katsir, cet. Beirut
2. Al-Utsuluts-tsalatsah dengan Syarah, Syaih Ibnu Utsaimin
3. Muslim.or.id
4. Makalah Rahmat, ST
5. Syamilul Qur’an
6. Terjemah Al-Qur’an, Depag