Diantara tanda seseorang diberi taufiq untuk mendapatkan kebaikan adalah dimudahkan baginya jalan untuk mempelajari agama.

Dimana sekarang orang-orang meninggalkan agama, meninggalkan sabda Rasūlullāh صلى الله عليه وسلم yang mana dia adalah sumber kebaikan dan keselamatan seseorang di dunia maupun di akhirat.

Mu’awiyah, Rasūlullāh صلى الله عليه وسلم bersabda :

مَنْ يُرِدِ الله بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ صحيح البخاري و مسلم

“Barangsiapa yang Allāh kehendaki kebaikan niscaya Allāh akan fahamkan dia dalam urusan agamanya”. (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan pentingnya pemahaman di dalam agama karena dia adalah alamat kebaikan yang Allāh kehendaki dalam diri seseorang.

Dan kebalikannya,  seseorang yang tidak Allāh kehendaki kebaikan pada dirinya niscaya dia tidak akan difahamkan dalam agama. Tidak akan ada keinginan untuk belajar agama, dia sama sekali tidak menoleh kepada ilmu agama, sehingga bagaimana dia akan mendapatkan kebaikan manakala dia tidak faham akan kebaikan itu sendiri.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan :
“Dan setiap orang yang Allāh kehendaki kebaikan pada dirinya maka PASTI Allāh akan fahamkan dia dalam urusan agamanya. Dan orang-orang yang dia tidak difahami difahamkan dalam urusan agamanya maka dia tidak diinginkan kebaikan pada dirinya.”

Ilmu Syar’i adalah cahaya penerang bagi kehidupan seorang hamba di dunia menuju ke alam akhirat. Maka, barangsiapa menuntut ilmu syar’i dengan niat ikhlas karena Allah dan dengan tujuan agar meraih keridhoan-Nya semata, niscaya ia tidak akan berhenti dan bosan dari menuntut ilmu syar’i sebelum kematian menjemputnya.

» Allah  berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ اليَقِي
Artinya: “Beribadahlah engkau kepada Allah hingga datang kepadamu kematian.” (Al-Hijr : ).

Oleh karenanya, Nabi صلى الله عليه وسلم senantiasa mengambil ilmu dan menerima wahyu dari Allah semenjak diangkat oleh Allah sebagai Nabi dan Rasul-Nya hingga Beliau wafat.

»Dari Anas berkata; “Sesungguhnya Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Rasulullah secara berturut-turut hingga Beliau wafat. Dan kebanyakan wahyu itu diturunkan Allah pada hari Beliau wafat.” (HR Al-Bukhari Dan Muslim).

» Abu Ja’far Ath-Thobari rahimahullah menjelang wafatnya berkata: “Sepantasnya bagi seorang hamba agar tidak meninggalkan (kewajiban) menuntut ilmu sampai ia mati.” (Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyqo juz.52 hal.199).

» Ada seseorang bertanya kepada Abdullah bin Al-Mubarok : “Sampai kapan engkau menulis (mempelajari) hadits?” Beliau jawab: “Selagi masih ada kalimat bermanfaat yg belum aku catat.” (Al-Jaami’ Li Akhlaaqi Ar-Roowi, Al-Khothib Al-Baghdadi IV/419).

» Sufyan Ats-Tsauri pernah ditanya: “Menuntut ilmu yang lebih kau sukai ataukah beramal?”. Beliau menjawab: “Sesungguhnya ilmu itu dimaksudkan untuk beramal, maka jangan tinggalkan menuntut ilmu dengan dalih untuk beramal, dan jangan tinggalkan amal dengan dalih untuk menuntut ilmu.” (Tsamratu al-’Ilmi al-’Amal, hal. 44-45).

Menuntut Ilmu merupakan keutamaan yang tidak ada tandingannya.
Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata :
“من طلب العلم ليحيى به الاسلام فهو من الصديقين ودرجته بعد درجة النبوة”
” Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i dalam rangka membela Islam, maka ia digolongkan termasuk as-Shiddiqqin, dan derajat tersebut setingkat dibawah derajat kenabian “.(Miftah Dar as-Sa’adah, 1/121)

Wallohu a’lam