Jalan menuju manisnya iman

✍Satu bulan penuh tarbiyyah Ramadhan menuju ketakwaan, maka jalan berikutnya yang diidamkan setiap muslim adalah kebahagiaan dengan iman.

Iman merupakan dasar mendapatkan kebahagiaan.
Dengan kebahagiaan akan terasa manisnya kehidupan.
Semua itu meupakan sesuatu yang dicari oleh setiap manusia. Mereka siap mengorbankan apa pun yang berharga termasuk jiwa demi memperolehnya.

Namun…..
Banyak manusia yang salah mendefinisikan kebahagiaan.
Yang pasti kebahagiaan hakiki bukan pada banyaknya harta, tingginya kedudukan atau status sosial, sekalipun kebanyakan manusia menilai kebahagiaan dengan banyaknya dunia yang dikumpulkan.

Allah berfirman,
“Katakanlah, “Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah, dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali-Imran: 15—16)
Ayat ini menunjukkan bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya adalah dengan iman dan amalan saleh, dengan bertakwa kepada-Nya.

Allah berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)

Dan jalan mendapatkan manisnya iman itu harus mau menempatkan kecintaan yang benar sesuai yang diajarkan oleh Alloh dan Rasulnya.

Dari Anas, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

“Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.”(HR Al-Bukhory, 16 dan Muslim, 60)

Ketiga sifat ini hanya akan ada jika seorang mukmin menyempurnakan keimanannya kepada kalimat tauhid لا إله إلا الله.

Orang-orang yang ingin mendapatkan manisnya iman harus membayar mahal untuk mewujudkannya.
Yaitu dia harus membayar seluruh hidupnya dengan kecintaan kepada Alloh dan Rasulnya melebihi dari yang lainnya.
Dia harus menempatkan cintanya kepada apapun dan siapapun ditimbangnya karena Alloh.
Kemudian dia harus mengubur semua bentuk kekafiran dan menumbuhkannnya menjadi keimanan yang penuh keikhlasan kepada Alloh.

Dan manisnya iman merupakan buah utama dari pohon tauhid
لا إله إلا الله.
Sebagaimana perumpamaan yang Alloh buat untuk ini,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ. تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik (iman) seperti pohon yang baik, akarnya menancap kuat (ke dalam tanah) dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap saat dengan izin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (Ibrahim: 24-25).
Wallohu a’lam.

Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc