Islam itu agama yang mudah dan sederhana.
Tidak bertele-tele.
Ketika sekarang ini, kita melihat kenyataan bahwa beragama Islam itu sulit dan tidak flesible, disebabkan karena banyaknya penyimpangan yang terjadi dalam mengamalkan dan mempraktekkan Islam.

Allah menurunkan Al-Qur-an untuk membimbing manusia kepada kemudahan, keselamatan, kebahagiaan dan tidak membuat manusia celaka, sebagaimana firman Allah :

مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ إِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَن يَخْشَىٰ تَنزِيلًا مِّمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى

“Kami tidak menurunkan Al-Qur-an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” [Thaahaa: 2-4]

Tidak ada hal apa pun yang sulit dalam Islam. Allah Azza wa Jalla tidak akan membebankan sesuatu yang manusia tidak mampu melaksanakannya.

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda,

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا، وَأَبْشِرُوْا، وَاسْتَعِيْنُوْا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ.

“Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.” [HR Bukhory, 39]

Mereka yang mengikuti jejak Salaf akan mendapati kemudahan itu lagi.
Allah menjamin mereka yang mengikuti jalan Rasululloh dan para sahabanya akan diberi petunjuk, sedangkan yang menyimpang dari jalan mereka akan dibiarkan tersesat. Sehingga terbelenggu dalam kesulitan.
Alloh berfirman,
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan orang-orang Mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa: 115).
Maka mengikuti jalan kaum Mukminin-yaitu para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan para imam yang mendapatkan hidayah, itulah jalan keselamatan. (Kitab Ushul Al-Iman:293).

Hanya saja, ittiba (ketaatan) itu dikatakan benar jika terpenuhi tiga perkara. Ketiga perkara itu merupakan terangkum dari nash-nash terdahulu, yaitu:
1. Berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.
2. Tidak berpecah belah dan tidak berselisih tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah.
3. Hendaknya ittiba (menaati) Al-Qur’an dan As-Sunnah diikat dengan Pemahaman Shalafus Sahalih, tidak dengan pemahaman yang lainnya.

Itulah kemudahan dalam Islam bagi mereka yang mengambil jalannya para Salaf.
Setelah kemudahan ini, maka tidak perlu mengambil jalan yang lain yang sulit dan tidak berujung.
Semoga bermanfaat.
Wallohu a’lam.

Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc