Bersikap wala’ (loyal) kepada Wali-wali Allah dan bersikap baro’ah (memusuhi) terhadap musuh-musuh Allah merupakan bukti kecintaan kepada Allah.

Allah سبحانه وتعالى  berfirman dalam kitab-Nya,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31) Jadi, mengikuti sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan mengikuti syariat-Nya secara lahir dan bathin akan mendatangkan kecintaan kepada Allah.
Sebagaimana jihad di jalan-Nya, berloyalitas kepada wali-wali-Nya, dan memusuhi musuh-musuh-Nya adalah hakikat kecintaan kepada Allah.
Rasululloh  صلى الله عليه وشلم bersabda,
أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ فِى اللهِ وَتُبْغِضَ فِى للهِ
“Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta dan benci karena Allah” (HR As-Suyuthi dihasankan Al-Albani dalam ash-Shahihah no. 998)
Dalam hadits yang lain,
مَنْ أَحَبَّ لِلّٰهِ وَأَبْغَضَ لِلّٰهِ وَأَعْطَى لِلّٰهِ وَمَنَعَ لِلّٰهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ
“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, menahan karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya.” (HR As-Suyuthi dishahihkan Al-Albani dalam ash-Shahihah no. 380)
Banyak orang yang mengaku mencintai Allah, padahal dia adalah orang yang jauh dari orang lain dalam hal ittiba’ as-sunnah (mengikuti sunnah Rasulullah).
Jauh pula dari amar ma’ruf, nahi munkar, dan jihad fii sabilillah. Sekalipun demikian,  dia mengklaim bahwa yang dia lakukan itu lebih sempurna untuk mencapai kecintaan dari yang lainnya, karena anggapannya bahwa jalan kecintaan kepada Allah tidaklah tergantung di dalamnya kecemburuan dan kemarahan karena-Nya.
Hal ini menyelisihi apa yang telah ditunjukkan oleh al-Quran dan as-Sunnah.
Allah berfirman dalam hadits qudsi,
إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِى الْيَوْمَ أُظِلَّهُمْ فِى ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي
“Sesungguhnya Allah berfirman pada hari kiamat, ‘Di manakah orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku, hari ini Aku akan menaungi mereka di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Ku.” (HR Muslim, 2566)
Firman-Nya ‘Di manakah orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku’ merupakan peringatan atas apa-apa yang tersimpan dalam qalbu-qalbu mereka berupa pengagungan kepada Allah dan memuliakan-Nya bersamaan dengan itu mereka saling mencintai karena-Nya.
Dengan demikian mereka adalah orang yang senantiasa menjaga batas-batasnya, bukan orang yang tidak menjaga batas-batasnya karena lemahnya nilai-nilai keimanan dalam qalbu-qalbu mereka.
Mereka adalah orang yang disebutkan dalam hadits,
حَقَّتْ مَحَبَّتِى لِلْمُتَحَّابِّينَ فِيَّ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِى لِلْمُتَجَالِسِينَ فِيَّ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِى لِلْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِى لِلْمِتَبَاذِلِينَ فِيَّ
“Berhak untuk mendapatkan kecintaan-Ku bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku, berhak untuk mendapatkan kecintaan-Ku bagi orang-orang yang saling bermajelis karena Aku, berhak untuk mendapatkan kecintaan-Ku bagi orang-orang yang saling berkunjung karena Aku, berhak untuk mendapatkan kecintaan-Ku bagi orang-orang yang saling memberi karena Aku” (HR As-Suyuthi dishahihkan oleh Al-Albani dalam ash-Shahih al-Jami’, 4321-4331)
Hadits-hadits tentang keutamaan orang-orang yang saling mencintai karena Allah cukup banyak.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ, وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ, وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلِّقٌ بِالْمَسَاجِدِ, وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ, وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ, وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ, وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Ada tujuh golongan yang Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Mereka adalah imam (pemimpin) yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, lelaki yang hatinya selalu terikat/terpaut dengan masjid-masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah mereka berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah, (kemudian) seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang punya kedudukan dan kecantikan namun ia berkata, “Sungguh aku takut kepada Allah.” (Yang berikutnya) seorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam keadaan sendirian lalu mengalir air matanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah memudahkan kita untuk meraih kecintaan kepada-Nya.

Tidak ada yang lebih berharga bagi kita di bulan Romadhon yang penuh berkah selain menggapai ridho dan ampunan Allah dengan amal-amal sholih.

[Sumber at-Tuhfah al-‘Iraqiyyah fii al-A’maal al-Qalbiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Edisi Indonesia Amalan-Amalan Hati dan Jenisnya, 148-151]