Lebih dari 14 abad Rasulullah صلى الله عليه وسلم meninggalkan kita. Ajaran-nya yang begitu indah selalu kita rasakan. Agama yang sangat jelas, malamnya bagaikan siangnya. Jalan hidup yang telah mencetak generasi terbaik dari umat ini dari kalangan para sahabat Rasulullah. Generasi para sahabat Rasulullah begitu kokoh aqidah dan keimanannya. Maka tak heran jika golongan yang beraqidah seperti ini mampu menaklukkan negara-negara kafir yang besar seperti Persia dan Romawi karena mereka adalah golongan yang selamat, yang selau ditolong oleh Allah. Sepeninggal generasi terbaik tersebut aqidah kaum muslimin mulai terkontaminasi dengan virus-virus kesesatan, setiap mereka mulai mendakwahkan aqidahnya masing-masing. Syiah dengan bertopengkan cinta ahlulbait mendakwakan aqidah-aqidah kufur seperti al-Qur’an tidak asli lagi, para sahabat kafir, dll. Khawarij dengan semboyan khasnya “Tegakkan hukum Islam” mengajak untuk memberontak pemerintah dengan klaim bahwa mereka telah kafir. Dan sekte-sekte lainnya yang sangat membahayakan umat Islam sendiri. Namun, satu kelompok kebenaran tetap ada dan istiqamah mendakwahkan aqidah yang dibawa oleh Rasulullah. Estafet perjuangan tetap berlanjut oleh generasi setelahnya tanpa adanya perubahan dalam aqidah mereka. Hadits tentang perpecahan umat merupakan mukjizat kenabian. Bahwa umat Islam ini akan terpecah menjadi 73 golongan tidak ada yang selamat kecuali satu kelompok, merekalah Thaifah Manshurah, merekalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, merekalah Firqatun Najiyah. Allah betfirman:

وَلاَ تَكُونُواْ مِنَ الْمُشْرِكِــيْنَ . مِنَا لَّذِينَ فَرَّقُواْدِيْنَهُمْ وَكَــانُواْ شِيَعًا كُلُّ حِزْبِ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونْ  

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (Ar-Rum: 31-32). Rosulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:Kaum Yahudi terpecah belah menjadi 71 golongan, kaum Nasara (Nasrani) terpecah belah menjadi 72 golongan, dan umat ini (Islam) akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semua masuk Neraka kecuali satu. Mereka adalah Al Jama’ah. Lalu shohabat bertanya: “Siapa Al Jama’ah itu ya Rosulullah?”. Rosulullah berkata: “Apa yang aku dan para shohabatku meniti di atasnya”. Dalam riwayat yang lain “Siapa saja yang berdiri di atas jalanku dan para shohabatku.” (HR. Ahmad dishahihkan Al-Albany)

Ciri-ciri dari golongan yang selamat:

1. Golongan yang selamat ialah orang yang mengikuti manhaj (jalan) Rosulullah dalam hidupnya, serta manhaj para Shahabat sesudahnya.

2. Golongan yang selamat akan kembali (merujuk) kepada Kalamullah (Al-Qur’an) dan Rosul-Nya (Al-Hadits) tatkala terjadi perselisihan dan pertentangan di antara mereka.

3. Golongan yang selamat tidak mendahulukan perkataan siapaun atas Al-Qur’an dan Al-Hadits.

4. Golongan yang selamat senantiasa menjaga kemurnian Tauhid. Mengesakan Allah dalam beribadah, berdoa, dan memohon pertolongan baik dalam masa sulit maupun lapang, menyembelih kurban, bernadzar, tawakal, dan berbagai bentuk ibadah lain yang semuanya menjadi dasar bagi tegaknya Daulah Islamiyah yang benar. Menjauhi dan membasmi berbagai bentuk syirik baik yang kecil maupun yang besar, sebab hal itu merupakan konsekuensi tauhid. Dan sungguh, suatu golongan tidak mungkin mencapai kemenangan jika ia meremehkan masalah tauhid, tidak membendung dan tidak pula memerangi syirik dengan segala bentuknya.

5. Golongan yang selamat senang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah, baik dalam ibadah, perilaku, dan dalam segenap hidupnya. Karena itu, mereka menjadi orang-orang asing di tengah kaumnya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi “Sesungguhnya Islam pada permulaannya adalah asing dan akan kembali menjadi asing seperti pada permulaannya. Maka keuntungan besar bagi orang-orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145)

Riwayat lain disebutkan: “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yaitu orang-orang yang (tetap) berbuat baik ketika manusia sudah rusak.” (HR. Ahmad 4/73, lihat ash-Shahihah no. 1273)

6. Golongan yang selamat menghormati para imam mujtahidin, dan tidak fanatik terhadap salah seorang di antara mereka. Mereka adalah para ahli hadits dan para pengikutnya.

7. Golongan yang selamat mengambil fiqih dari al-Qur’an, hadits-hadits yang shahih, dan pendapat-pendapat imam mujtahidin yang sejalan dengan hadits shahih. Hal ini sesuai dengan wasiat mereka, yang menganjurkan agar para pengikulnya mengambil hadits shahih dan meninggalkan setiap pendapat yang bertentangan dengannya. Mereka mengingkari hukum manusia yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

8. Golongan yang selamat menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka melarang segala bentuk bid’ah dan sekte-sekte yang menghancurkan serta memecah-belah umat.

9. Golongan selamat jumlahnya sangat sedikit di tengah banyaknya umat manusia. Golongan selamat banyak difitnah dan dilecehkan dengan gelar yang buruk.

10. Mereka adalah para Salaf (terdahulu), yaitu Sahabat Nabi, Tabi’ien, Tabi’it Tabi’ien dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz pemah ditanya tentang golongan yang selamat tersebut, beliau menjawab, “Mereka adalah pengikut salafush shalih dan setiap orang yamg mengikuti jalan para salafush shalih (Rasulullah dan para sahabatnya).”

Sifat Golongan Yang Selamat Dan Kelomppok Yang Dimenangkan.

Ibnul Qayyim memuji perkataan Abu Muhammad bin Ismail Abu Syaamah dalam kitabnya Alhawadits wal bida’ dalam kitabnya Ighatsatul Lahfaan 1/69, berkata :Alangkah bagusnya perkataannya, “Telah jelas bagi orang yang dapat memandang, bahwa Al-Jama’ah adalah yang sesuai dengan kebenaran walaupun sendirian dan kelompok yang dimenangkan (At-Thaifah Al Manshurah) ini disifatkan dalam hadits-hadits Rasulullah sebagai penegak kebenaran “.

Beginilah Seharusnya Seorang Pengikut Salaf.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan karakteristik paling menonjol dari Golongan Yang Selamat (Al Firqah An Najiyah) adalah berpegang teguhnya dengan ajaran Nabi dalam hal akidah (keyakinan), ibadah (ritual), akhlak (budi pekerti), dan mu’amalah (sesama manusia). Dalam keempat perkara inilah Golongan Yang Selamat sangat tampak menonjol ciri mereka dibandingkan golongan yang lain. Mereka sangat berhati-hati dan tidak mudah menghukumi manusia dengan kafir dan sesat. Dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah wajib untuk bersatu, bahkan meskipun mereka berbeda pendapat dalam hal-hal yang mereka perselisihkan, selama hal itu memang dibangun berdasarkan dalil-dalil menurut pemahaman yang mereka capai. Karena hal ini (perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyah) sesungguhnya adalah perkara yang lapang, dan segala puji hanya bagi Allah. Maka yang terpenting adalah terwujudnya keterikatan hati dan kesatuan kalimat (di antara sesama Ahlus Sunnah). Dan tidaklah perlu diragukan bahwasanya musuh-musuh umat Islam sangat senang apabila di antara umat Islam saling berpecah belah, entah mereka itu musuh yang terang-terangan maupun musuh yang secara lahiriyah menampakkan pembelaan terhadap kaum muslimin atau mengaku loyal kepada agama Islam padahal sebenarnya mereka tidak demikian. Maka wajib bagi kita untuk menonjolkan karakter istimewa ini, sebuah karakter yang menjadi ciri keistimewaan kelompok yang selamat; yaitu bersepakat di atas satu kalimat.” (diringkas Fatawa Arkanul Islam, 22-26). Wallahu a’lam

Sumber:muslim.or.id; Manhaj Al-Firqotun Najiyah, Syaikh Jamil Zainu; Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salaf, Abu Usamah Salim Al-Hilaly

Abu Yusuf Masruhin Sahal