Dibalik Sunnah membunuh tikus dan hewan fawasik.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم sudah lama memperingatkan umatnya akan bahaya tikus, dan semua hewan fawaik, beliau menyuruh kita membunuhnya baik itu ditanah halal atau ditanah haram. Sabdanya,
خمسٌ فواسقٌ يُقتلْنَ في الحلِّ والحرمِ : الحيةُ ، والغرابُ الأبقعُ ، والفارةُ ، والكلبُ العقورُ ، والحُدَيَّا
“Lima hewan yang fasik dibunuh di tanah halal maupun tanah haram : ular, burung gagak, tikus, anjing yang suka menggigit, burung pemangsa (alap-alap).” (HR Muslim, 1198)
“Ada lima jenis hewan melata barang siapa membunuhnya tak berdosa sekalipun sedang ihram, yaitu kalajengking, tikus, anjing galak, burung gagak dan burung pemangsa (rajawali).” (HR. Bukhari, 3068)
“Tutuplah bejana (menyimpan makanan), ikatlah tutup kendi (menyimpan minuman), tutup pintu-pintu rumah dan jagalah anak-anak kecil kalian pada waktu ‘isya’ karena saat itu adalah waktu bagi jin untuk berkeliaran dan menculik, dan padamkanlah lampu-lampu ketika kalian tidur, karena binatang-binatang fawasik (berbahaya) bila datang dapat menarik sumbu lampu sehingga dapat berakibat kebakaran yg menyebabkan terbunuhnya para penghuni rumah. Ibnu Juraij & Habib berkata dari ‘Atha’; (itulah waktu) bagi setan-setan.” (HR. Bukhari, 3069).
Tidak ada satupun anjuran sunnah Rasulullah yang sia-sia ketika dilaksanakan.
Baik kita tahu hikmahnya ataupun tidak. Terlebih ketika terbukti secara alamiah ataupun ilmiah akan dampak bahayanya.
Berikut ini liputan bahayanya:
Waspadalah, Kencing Tikus Berdampak Penyakit Berbahaya Hingga Mematikan
Jangkitan Penyakit Kencing tikus (Bakteria Leptospirosis)

YOGYAKARTA (gemaislam) – Tikus adalah biatang kotor yang hidupnya di lubang-lubang tanah atau di tumpukan sampah. Ketika datang musim hujan, bahkan terkena banjir, maka bahaya penyakit yang diakibatkan oleh hewan tikus menjadi rawan, bahkan resikonya bisa pada kematian seseorang. Memasuki puncak musim hujan, masyarakat diminta untuk semakin mewaspadai berbagai wabah penyakit. Salah satunya leptospirosis atau yang biasa disebut kencing tikus. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta, Rubangin mengatakan, penyakit yang disebabkan oleh bakteri kencing tikus ini mengalami peningkatan angka kematian di tahun 2015. Dari Januari hingga Maret 2015 saja telah tercatat 14 kasus dan 5 diantaranya meninggal. “Pada tahun lalu, selama setahun angka kasus Leptospirosis hanya 23 kasus. Sedangkan tahun ini, baru hingga Maret 2015 sudah 14 kasus,” kata Rubangin di kantornya, seperti dilansir Tribunnews,Kamis (12/3/2015). Oleh karena itu, kata Rubangin, Dinkes Kota Yogyakarta sudah menurunkan sejumlah tim untuk melakukan penelitian tentang jenis spesies tikus apa saja yang rawan membawa bakteri ini. Ia menambahkan, pihaknya juga bekerjasama sejumlah puskesmas dan beberapa dinas lainnya untuk membasmi wilayah endemis bakteri tikus. Terutama wilayah bantaran sungai. “Daerah bantaran sungai biasanya mengalami banjir. Tikus yang biasanya hidup di pinggiran sungai pun akhirnya mencari tempat lain untuk menghindari banjir. Akhirnya pemukiman penduduk jadi salah satu sasaran,” kata Rubangin. Rubangin menghimbau, agar masyarakat terhindar bakteri tikus tersebut, salah satunya dengan cara membersihkan semua tempat yang bisa menjadi perkembangbiakan tikus. Ia menambahkan, jika terkena kotoran tikus, segera cuci dengan sabun atau diterjen, karena cara itu juga mampu menghilangkan bekteri tersebut. Sementara itu, Arif Agus Nugroho selaku Camat Gondomanan mengatakan setelah ada kejadian tiga warganya meninggal akibat Leptospirosis, pihaknya sudah melakukan konsolidasi sosial dengan seluruh masyarakat. “Kami kerja bakti massal, melakukan penyemprotan disenfektan, selain itu puskesmas juga sudah melakukan tes sampel tanah,” kata Arif. Ia juga menambahkan bahwa sosialisasi di masyarakat terus dilakukan agar tidak ada lagi kejadian yang terulang.
Semoga bermanfaat
Abu Yusuf