Orang Mukmin selalu mencari udzur dari saudara-saudaranya

الْمُؤْمِنُ يَطْلُبُ ْمَعَاذِيْرَ إِخْوَانِهِ

Ibnu Mazin berkata:

الْمُؤْمِنُ يَطْلُبُ ْمَعَاذِيْرَ إِخْوَانِهِ وَالْمُنَافِقُ يَطْلُبُ الْعَثَرَاتِ

“Seorang mukmin mencari udzur bagi saudara-saudaranya, sedangkan orang munafik mencari-cari kesalahan saudara-saudaranya.”

Abu Qilabah ‘Abdullah bin Zaid al-Jarmi rahimahullah berkata:

إِذّا بَلَغَكَ عَنْ أَخِيْكَ شَيْءٌ تَكْرَهُهُ فَالْتَمِسْ لَهُ الْعُذْرَ جهْدَكَ، فَإِنْ لَمْ تَجِدْ لَهُ عُذْرًا فَقُلْ فِيْ نَفْسِكَ: لَعَلَّ لأَخِيْ عُذْرًا لاَ أَعْلَمُهُ

“Jika sampai kepadamu kabar tentang saudaramu yang tidak kau sukai, maka berusahalah mencari udzur (alasan untuk tetap berprasangka baik) bagi saudaramu itu semampumu, jika engkau tidak mampu mendapatkan udzur bagi saudaramu, maka katakanlah dalam dirimu, ‘Mungkin saudaraku punya udzur yang tidak kuketahui.”

Hamdun Al-Qashshar berkata:

إِذَا زَلَّ أَخٌ مِنْ أِخْوَانِكَ فَاطْلُبْ تِسْعِيْنَ عُذْرًا، فَإِنْ لَمْ يَقْبَلْ ذّلِكَ فَأَنْتَ الْمَعِيْبُ

“Jika salah seorang dari saudaramu (yang menurut pendapatmu) melakukan kesalahan, maka carilah sembilan puluh udzur untuknya, dan jika saudaramu itu tidak bisa menerima (tidak mendapatkan) satu udzur pun (jika engkau tidak menemukan udzur baginya) maka engkaulah yang tercela.”

(Adabul ‘Isyrah, hal 19).

Dari Yunus bin ‘Abdil A’la, beliau berkata: “Aku mendengar Asy-Syafi’i (rahimahullah) berkata:

‘Wahai Yunus, terlalu tertutup dari banyak orang akan mengakibatkan permusuhan, sedangkan terlalu bertoleransi dengan banyak orang mengakibatkan datangnya teman-teman yang tidak baik, maka jadilah engkau berada di antara keduanya’.”

(Jawaahiru Shifatish Shafwah, edisi Indonesia: Teladan Hidup Orang-Orang Pilihan, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor)

Dari Raja’ bin Haiwah, diriwayatkan bahwa ia berkata:

“Barang siapa hanya bersahabat dengan orang yang (menurutnya) tidak bercela, akan sedikit sahabat yang dimilikinya. Barang siapa yang hanya mengharapkan keikhlasan dari sahabatnya, ia akan banyak mendongkol. Dan barang siapa yang mencela sahabatnya atas setiap dosa yang dilakukannya (dilakukan oleh sahabatnya), (maka ia) akan banyak memiliki musuh.”

[Siyar A’lam an-Nubala (4/557-558). Lihat di buku Sudah Salafikah Akhlak Anda?, Pustaka At-Tibyan, Solo; dan juga di buku Belajar Etika Dari Generasi Salaf, Darul Haq, Jakarta, yang diterjemahkan dari judul aslinya Aina Nahnu Min Akhlaq as-Salaf]

Sebagian penyair berkata:

تُرِيْدُ صَدِيْقًا لاَ عَيْبَ فِيْهِ وَهَلِ الْعُوْدُ يَفُوحُ بِلاَ دُخَانٍ

Engkau menghendaki seorang teman yang tidak ada aibnya
Maka apakah ada kayu gaharu yang mengeluarkan bau wangi tanpa asap??

(Silsilah Al-Huda wan Nuur no. 32)

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :
“يبصر أحدكم القذاة في عين أخيه ، وينسى الجذع في عينه”
صحيح الترغيب للالباني ص:2331

قال رجل للحسن البصري رحمه الله : إن قوماً يجالسونك ليجدوا بذلك إلى الوقيعة فيك سبيلاً (أي يتصيدون الأخطاء).
فقال: هون عليك يا هذا، فإني أطمعت نفسي في الجنان فطمعت، وأطمعتها في النجاة من النار، فطمعت، وأطمعتها في السلامة من الناس فلم أجد إلى ذلك سبيلاً، فإن الناس لم يرضوا عن خالقهم ورازقهم، فكيف يرضون عن مخلوق مثلهم؟

Oleh Ust. Abdulloh hadromy