Allah سبحانه وتعالى menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepadanya.
Firman-Nya,
وما خلقت الجن والإنس إﻻ ليعبدون.
“Dan Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. (Adz-dzariyat:56)

Membersihkan niyat ibadah hanya kepada Allah merupakan intinya ibadah yang ikhlas.
Itulah yang Allah minta dari hambanya. Allah tidak menuntut yang banyak dari kita dalam ibadah. Tetapi yang yang Allah minta adalah bersihnya niyatan ibadah hanya kepadanya.
Firman-Nya:
الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عمﻻ.
“Dia lah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, “Siapakah diantara kamu yang paling baik amalnya” (Al-Mulk:2)

Amal yang paling baik adalah yang paling ikhlas yaitu yang ditujukan dalam amalnya hanya untuk mencari ridho Allah semata, bukan yang paling banyak.
Bahkan Allah tidak akan menerima amal yang banyak jika tidak ditujukan untuk Allah.
Amal seperti itu hanyalah fatamorgana, sebagaimana  yang Allah sampaikan tentang perumpamaan amalan-amalan orang kafir, “Dan orang-orang kafir, perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi tidak ada apapun.”(An-Nur:39)

Dan amal yang ikhlas karena Allah saja yang ada berkahnya.
Firmannya,
وما أتيتم من ربا ليربوا في أموال الناس فﻻ يربوا عند الله. وما أتيتم من زكاة تريدون وجه الله وأولئك هم المضعفون.
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah,  maka tidak bertambah harta itu disisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk memperoleh keridhoan Allah, maka itulah orang-orang yang berlipat ganda (pahalanya)”. (Ar-Rum: 39)

Dengan ikhlas itulah Allah telah meninggikan derajat para Sahabat dibanding dengan generasi setelahnya.
Sebagaimana yang tersirat  dalam sabda Nabi صلى الله عيه وسلم:
لا تسبوا أصحابي، فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ما بلغ مد أحدهم وﻻ نصيفه.
“Janganlah kalian mencela sahabatku, maka seandainya kalian berinfak sebesar gunung uhud berupa emas niscaya tidak akan menyamai  infak satu genggam tangan mereka atau separuhnya.” (HR Buhory, 3673; Muslim, 2540).
Hal yang membedakan ini, karena kebersihan hati mereka para Sahabat Nabi dalam beramal hanya untuk Allah, sehingga sedikit saja amal mereka dilipat gandakan perbedaannya dengan amal kebaikan orang-orang yang setelah mereka.

Berkahnya amalan yang ikhlas banyak sekali.
Diantaranya yang pokok adalah dilipat gandakan pahalanya, sehingga diselamatkan dari azab neraka di hari kiamat.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash berkata:
“Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah akan mengadili salah seorang laki-laki dari ummatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu ditunjukan kepada laki-laki tersebut 99 catatan (amal keburukan), setiap satu catatan panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepada laki-laki tersebut: ”Apakah kau ingkari dari semua ini (kedzaliman yang telah kau perbuat)? Apakah para malaikat-Ku pencatat dan penjaga amalan menzhalimimu? Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak Ya Tuhanku!”. Lalu Allah berkata kepada laki-laki tersebut: “Apakah engkau punya alasan (berbuat kezhaliman itu)? Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak Ya Tuhanku!”. Kemudian Allah berkata kepada laki-laki tersebut: “Ya benar, tetapi sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan sesungguhnya tidak ada kedzaliman atasmu pada hari ini. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkan sebuah kartu kecil yang di dalamnya terdapat : Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhamadan ‘abduhu warasuluhu (Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya). Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada orang tersebut: “Datangkan timbanganmu”, maka orang tersebut berkata: “Ya Tuhan untuk apa kartu kecil ini dibandingkan dengan catatan (amal keburukan) ini ?”, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada orang tersebut: “Sesungguhnya pada hari ini tiada kedzaliman”. Maka diletakkanlah catatan itu pada salah satu daun timbangan, dan kartu kecil itu diletakan pada satu daun timbangan yang lain. Maka jadi ringanlah catatan-catatan `amal keburukan itu dan beratlah kartu kecil tersebut, maka tiadalah sesuatupun yang menjadi berat dibandingkan dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. (HR. Ibnu Majah no. 4300, Tirmidzi no. 2639 disohihkan Al-Albany).

Ibnul Qayyim mengomentari hadits bithoqoh ini dengan nasrhatnya,
“Amalan tidaklah berlipat-lipat karena bentuk dan banyaknya amalan tersebut. Amalan bisa berlipat-lipat karena sesuatu di dalam hati. Bentuk amal bisa jadi satu kesamaan.
Akan tetapi bisa jadi ada perbedaan satu amal dan amal lainnya yang perbedaannya antara langit dan bumi.
Cobalah renungkan.
Lihatlah catatan amalnya yang berisi kalimat لا إله الله diletakkan di salah satu daun timbangan dan 99 catatan dosa di timbangan lainnya. Bayangkan pula bahwa satu catatan dosa saja jika dibentangkan sejauh mata memandang. Namun ternyata kartu ampuh berisi kalimat tauhid (لا إله إلا الله ) mengalahkan catatan penuh dosa. Ia ternyata tidak disiksa. Kita pun tahu bahwa setiap ahli tauhid memiliki kartu ampuh ini. Namun kebanyakan mereka malah masuk neraka karena sebab dosa yang mereka perbuat.”  (Madarijus Salikin)

Semoga Alloh memudahkan kita untuk ikhlas.

Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc