Tak terasa kita telah memasuki akhir bulan Sya’ban. Sebentar lagi kita akan kedatangan bulan Ramadhan.
Ramadhan 1440 H, sudah didepan mata.
Setelah sekian lama berpisah, kini Ramadhan kembali akan hadir di tengah-tengah kita. Bagi seorang muslim, tentu kedatangan bulan Ramadhan akan disambut dengan rasa gembira dan penuh syukur, karena Ramadhan merupakan bulan maghfirah, rahmat dan menuai pahala serta sarana menjadi orang yang muttaqin.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita melakukan persiapan diri untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan, agar Ramadhan kali ini benar-benar memiliki nilai yang tinggi dan dapat mengantarkan kita menjadi orang yang bertaqwa.

Apa yang sudah kita siapkan untuk menyambutnya…?

Diantara bekal pokok yang harus kita siapkan menuju Ramadhan adalah:

▶Ilmu.
Persiapan ilmu memahami fikih puasa dan sesuatu yang berkaitan dengan qiyamul lail adalah bekal pertama yang harus dipersiapkan.
Berkata Imam Al-Bukhory,

العلم قبل القول والعمل.
Berilmu dulu sebelum berkata dan melakukan amalan. (Kitab Al-Ilmu, Shohih Al-Bulhory)
Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه berkata:
”Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar diatas, ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya”.
Oleh karena itu, suatu amal perbuatan tanpa dilandasi ilmu, maka kerusakannya lebih banyak daripada kebaikannya. Maka dalam hal ini, hanya dengan ilmu kita dapat mengetahui cara berpuasa yang benar sesuai dengan petunjuk Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

▶Doa.
Kehidupan seorang muslim tidak boleh terlepas dari doa. Karena doa merupakan senjata utama bagi setiap muslim, juga merupakan perintah Allah.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚإِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.”(Al-Mukmin: 60)

Berdoa kepada Allah untuk dipertemukan dengan dengan Ramadhan dan diberkahi, sebagaimana yang dicontohkan para ulama salafusshalih. Mereka berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya dan selama enam bulan berikutnya mereka berdoa agar puasanya diterima Allah, karena berjumpa dengan bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Allah.
Mu’alla bin Al-Fadhl – ulama tabi’ tabiin – mengatakan,

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان يدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم
“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif: 264)

Dari Abu ‘Amr Al-Auza’ه, ia berkata: Adalah Yahya bin Abi Katsir berdoa memohon kehadiran bulan Ramadhan:

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلَى رَمَضَانَ ، وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ ، وَتُسلمهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Hilyatul Auliya’, juz 1, hlm. 420)

▶Persiapan fisik dan mental.
Sebagaimana yang dilakukan baginda Nabi صلى الله عليه وسلم ketika memasuki Sya’ban beliau memperbanyak puasa, sebagai persiapan secara fisik dengan kedatangan Ramadhan.
Beliau telah mempersiapkan penyambutan Ramadhan dengan banyak puasa di Sya’ban.
Dalam riwayat Usama bin Zayed dikatakan, “Aku bertanya kepada Rasululloh صلى الله علسه وسلم,
‘Wahai Rasulullah, Aku tidak melihatmu banyak berpuasa seperti di bulan Sya’ban?’ Beliau menjawab, ‘Sya’ban adalah bulan yang dilupakan manusia, letaknya antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan tersebut amal manusia diangkat (ke langit) oleh Allah dan aku menyukai pada saat amal diangkat aku dalam keadaan berpuasa’.” (HR. An-Nasa’i).

Sya’ban adalah bulan penutup rangkaian puasa sunah bagi Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebelum berpuasa penuh di bulan Ramadhan.

▶Bergembira dengan kedatangannya.
Karena kegembiraan dengan datangnya Ramadhan menunjukkan kuatnya kerinduan dan akan memudahkan setiap muslim untuk menghidupkannya dengan kebaikan.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga memberikan kabar gembira dengan kedatangan Ramadhan kepada para sahabat agar mereka bersemangat dengan kedatangannya,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh berkah. Bulan yang Allah jadikan puasa di dalamnya fardhu (kewajiban). Pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dibelenggu pemimpin setan, dan di dalamnya Allah memiliki 1 malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang diharamkan dari kebaikannya maka sungguh dia telah-benar-benar diharamkan kebaikan.” (HR. Al-Nasai, dishahihkan Al-Albani dalam At-Targhib, no. 985)

Imam Ibnu Rajab dalam Lathoif berkata: Hadits ini dasar dalam tahniah dari sebagian manusia kepada sebagian yang lain dengan datangnya bulan Ramadhan, bagaimana seorang mukmin tidak bergembita dengan dibukakanya pintu-pintu surga? Bagaimana seorang pendosa tidak bergembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Bagaimana orang berakal tidak bergembira dengan masa yang syetan dibelengg di dalamnya?”
Karenanya, seorang mukmin pantas bergembira dengan datangnya bulan (Ramadhan) ini. Ia bersungguh-sungguh dalam mengerjakan amal shalih di dalamnya. Ia bergembira dengan kedatangannya sebagaimana Nabi صلى الله عليه وسلم menyampaikan kegembiraan kepada sahabatnya dengan kedatangan bulan mulia ini.

▶Membersihkan hati dengan banyak bertaubat dan menjauhkan diri dari hasad dan dengki kepada kaum Muslimin.
Perintah bertaubat adalah wajib dari segala dosa. Karena dosa itu menjadi penghalang utama kebaikan dan penghalang diterimanya ibadah, maka sudah selayaknya setiap Muslim untuk segera beetaubat, terlebih sebelum menjalankan ibadah besar di bulan Ramadhan.

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةࣰ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن یُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَیِّـَٔاتِكُمۡ وَیُدۡخِلَكُمۡ جَنَّـٰتࣲ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ.
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (At-Tahrim: 8)

Selain itu juga hendaknya membersihkan hati dari iri dengki kepada sesama muslim.
Dengan menjaga hati terhadap kaum muslimin. Yakni jangan sampai ada kebencian dan permusuhan antara kita dan saudara muslim kita. Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِنَّ اللهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مَشَاحِن
“Sesungguhnya Allah menilik pada malam nishfu (pertengahan) Sya’ban, lalu mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang sesang bermusuhan terhadap saudaranya.” (HR. Ibnu Majah dan dihassankan oleh Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah no. 1144 dan Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 1016).
Wallahu a’lam.

Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc