Hubungi kami
pak masruhin
no hp alamat email


rekening bca rekening bni rekening bri rekening mandiri rekening muamalat nama rekening

Ashwab (Admin)
-melalui email-

email admin email admin


konsultasi
dr tita
no hp dr email dr




Testimoni

Pentingnya kelengkapan Sarana Belajar Sekolah

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sejarah merupakan gambaran perkembangan kebudayaan yang menggambarkan kemajuan suatu umat atau bangsa dari masa kemasa. Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin juga berlalu  dari generasi ke generasi dengan pasang surut yang terjadi diantara masa-masa yang dilaluinya. Penulisan Sejarah atau Tarikh Islam sudah dilakukan oleh para Ulama Islam diawal-awal Generasi pertama, karena begitu pentingnya masalah ini dalam membentuk budaya dan idiologi umat.

Kitab al-Qur’an yang merupakan mu’jizat yang paling agung disepanjang zaman yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. al-Qur’an juga merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman

وننزل من القران مـا هو شفاء ورحمة للمؤمنين ولا يزيد الظالمين الا خسـارا. الاسراء : 82

”Dan Kami turunkan dari al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain  kerugian”. (QS.Al Isra’ 82))DEPAG RI,1993: 437). Didalamnya memuat sekian banyak kisah-kisah yang hal itu merupakan sejarah perjalanan bangsa-bangsa sebelum Islam. Sebagaimana diungkapkan oleh DR. Akrom Dhiya, Al-‘Umari dalam kitab As-siroh An-nabawiyah Ash-shohihah bahwa AL-Qur’an itu terbagi menjadi tiga bagian, yaitu : At-Tauhid, Al-Ahkam dan Al-Qoshosh. (DR. Akrom Dhiya’ Al-‘Umary, 1993, 47) Al-Qur’an merupakan satu-satunya sumber yang terpercaya dalam mengungkapkan sejarah masa lalu. Kemudian Hadits-hadits yang shohih dari Rasulullah saw. Keduanya merupakan sumber yang pokok disamping catatan syair yang lama dan kesaksian para sahabat. (DR. Akrom Dhiya’ Al-“Umari, 1993, 48-49)

Sejarah Islam sebagai salah satu materi pendidikan agama Islam merupakan pembentuk inspirasi kemajuan kebudayaan dan idiologi umatnya. Maka dari itu generasi Islam harus mempelajari sejarah Kebudayaan Islam sehingga mereka mengerti bagaimana dahulu Islam diperjuangkan dan ditegakkan ditengah-terngah kerusakan umat manusia. Hal ini untuk memberikan motivasi dan membangun jiwa militansi keIslamannya sehingga mereka menjadi generasi yang tangguh dan kokoh dengan idiologi kebenarannya dalam melintasi sejarah.

Dalam kehidupan kita dewasa ini (era globalisasi) kita tahu bahwa banyak generasi umat Islam di tanah air yang hilang identitas ke-Islamannya. Mereka silau oleh kemajuan teknologi Barat, sehingga mereka menjadi umat yang minder dan malu dengan identitasnya sendiri. Padahal Islam telah memberikan kontribusi yang demikian besar terhadap kemajuan umat manusia jauh sebelum orang-orang Barat memahami tentang teknologi. Bagaimana dulu Cordova Spanyol menjadi pusat pengembangan teknologi dunia saat itu. Lahir disana tokoh-tokoh ulama yang tidak hanya ahli dibidang agama.,tetapi juga ahli dibidang teknologi seperti Ibnu Sina, Ibnu Ar-Rusyd dan lain lainnya. Gambaran sejarah seperti ini perlu disampaikan kepada generasi muda Islam sehingga mereka bisa tampil kembali menjadi pengendali dunia seperti para pendahulunya.

Madrasah Ibtidaiyah Ulum Al-Islamiyah Tuban adalah salah satu Madrasah Ibtidaiyah di Tuban, keberadaanya perlu diperhatikan dalam pengembangan pendidikan Islam di wilayah Tuban Kota, para siswanya berasl dari orang tua yang berlatar belakang sosial yang berbeda-beda ada yang dari guru, swasta, nelayan dan buruh. Berdasarkan realita diatas penulis mencoba akan mengadakan penelitian dengan judul  “HUBUNGAN KELENGKAPAN SARANA BELAJAR DENGAN PRESTASI SISWA KELAS VI MIM IV “ULUM ISLAMIYAH” TUBAN PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM”.

.

B. Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :

1.     Bagaimana kelengkapan sarana belajar siswa kelas VI MI Ulum Islamiyah Tuban dalam memahami sejarah Islam?

2.     Bagaimana prestasi pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam pada siswa MI Ulum Islamiyah Tuban?

3.     Adakah hubungan antara kelengkapan sarana belajar dengan prestasi siswa kelas VI MI Ulum Islamiyah Tuban dalam materi pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan adalah inti dari segala amal perbuatan, suatu karya yang tanpa tujuan yang jelas baiknya tentunya akan kehilangan makna dan sia-sia saja

الأمور بالمقاصد

Artinya:”…Segala sesuatu itu adalah tergantung pada tujuannya…” (Sayyid Abi bakar al ahdali:8)

Maka dari itu berdasarkan pada permasalahan diatas penulis mempunyai tujuan sebagai berikut :

1.     Untuk mengetahui kelengkapan sarana belajar siswa kelas VI MI Ulum Islamiyah Tuban dibidang Sejarah Kebudayaan Islam.

2.     Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa kelas VI MI Ulum Islamiyah Tuban dalam materi Sejarah Kebudayaan Islam.

3.     Untuk mengetahui hubungan antara kelengkapan sarana pengajaran den gan prestasi siswa kelas VI MI Ulum Islamiyah Tuban.

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis berasal dari kata hipo yang artinya di bawah dan thesa artinya kebenaran (Suharsini Arikunto, 1983:82)

Apabila penelitian telah mendalami permasalahan penelitiannya dengan seksama sewrta menetapkan anggapan dasar, maka membuat teori sementara yang kebenaranya masih perlu diuji dibawah kebenaran, inilah hipotesa (Suharsini Arikunto, 1983,: 83)

Jadi hipotesa merupakan kesimpulan yang belum final, maksudnya harus dibuktikan kebenarannya (Winarno Surahman, 1989 : 68)

Sedangkan menurut Suharsini Arikumo bahwa hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Suharsini Arikumo, 1983: 54)

Dari uraian terseut, maka yang dimaksud hipotesis penelitian adalah dugaan atau jawaban sementara terhadap masalah yang akan diteliti yang secara teoritis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenaranaya. Adapun hipotesis yang penulis ajukan dalam penelitia ini adalah sebagiai berikut:

Ha :            Ada Hubungan kelengkapan sarana belajar dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas VI MI Ulum Islamiyah Tuban.

Ho :            -

E. Manfaat Penelitian

Selain tujuan yang ingin diperoleh diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat yang maksimal, manfaat tersebut dibagi menjadi dua, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis seperti di bawah ini :

1. Manfaat Teoritis

a.            Hasil penelitian akan memberikan informasi kepada lembaga sekolah sehingga dapat menentukan langkah dan cara yang tepat untuk kegiatan selanjutnya.

b.            Dapat digunakan sebagai salah satu bahan pembanding apabila penelitian yang sama dilakukan dalam waktu-waktu mendatang

c.            Dapat melengkapi sumber pengetahuan dan teori-teori yang telah ada

d.            Dapat memberikan sumbangan bagi penelitian lebih lanjut khususnya mengenai tema yang sama.

e.            Bagi Lembaga STITMA Tuban Jurusan Tarbiyah Progaram Studi Pendidikan Agama Islam sebagai lahan bacaan dan wacana untuk umum, mahasiswa maupun dosen di perpustakaan.

2.  Manfaat Praktis

a.  Bagi Guru

Bagi guru khususnya guru agama (Sejarah Islam) dapat dijadikan pertimbangan dalam memyampaikan pelajaran pada siswa

b.  Bagi Siswa

Siswa dapat termotivasi untuk mendalami tentang ilmu Sejarah Islam guna meningkatkan keilmuan agama Islam

c.   Bagi Penulis

Sebagai media untuk mendapatkan pengalaman dalam penelitian sehingga dapat menetapkan ilmu yang diperoleh dari bangku kuliah, untuk memenuhi salah satu syarat dalam mendapatkan gelar Sarjana Strata Satu (S1) di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Makhdum Ibrahim (STITMA) Tuban

F. Asumsi penelitian

Asumsi penelitian adalah anggapan-anggapan dasar tentang suatu hal yang dijadikan pijakan berpikir dan bertindak dalam melakukan penelitian. Misalnya, Penulis mengajukan asumsi bahwa sikap seseorang dapat diukur dengan menggunakan skala sikap. Dalam hal ini ia tidak perlu membuktikan kebenaran hal yang diasumsikanya itu, tetapi dapat lansung memanfaatkan hasil pengukuran yang diperolehnya. Asumsi dapat bersifat substantif atau methodologis. Asumsi substantif berhubungan dengan permasalah penelitian, sedangkan asumsi methodologis berkenaan dengan methodologi penelitian.

Asumsi Peneliti dalam penilitian ini adalah ada perbedaan antara penggunaan alat bantu mengajar yang lengkap dengan prestasi belajar siswa kelas VI MIM IV ‘’Ulum Islamiyah’’ Tuban dalam materi Sejarah Kebudayaan Islam. Sebagaimana hasil penelitian Maria Beatric Nindy dalam skripsinya berjudul “Pengaruh Media Pembelajaran Berbasis Komputer Dan Sarana Belajar Di Sekolah Terhadap Prestasi Belajar Siswa (Studi Pada MataPelajaran Bekerjasama Dengan Kolega Dan Pelanggan Kelas X Administrasi Perkantoran SMK Negeri 2 Madiun)” (Maria Nindy, 2009, 9) bahwa besarnya pengaruh kelengkapan sarana belajar dalam menunjang prestasi siwas sampai 80% lebih.

G. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian

Ruang lingkup penelitian adalah suatu tempat penelitian yang dijadikan obyek sepenuhnya dalam proses penelitian. Disini penulis mengadakan penelitian di Madrasah Ibtidaiyah Ulum Islamiyah Tuban Tahun Pelajaran 2010/2011, sedangkan yang penulis teliti adalah tentang “HUBUNGAN KELENGKAPAN SARANA BELAJAR DENGAN PRESTASI SISWA KELAS VI MIM IV “ULUM ISLAMIYAH” TUBAN PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM”.

Keterbatasan penelitian adalah terbatasnya ruang lingkup kajian yang penulis lakukan karena alasan-alasan prosedural atau alasan tertentu, kurangnya pemahaman tentang tehnik-tehnik penelitian ataupun karena logistic dan juga minimnya financial, selain itu terbatasnya alat,sarana dan prasarana pendukung, kebiasaan, etika dan kepercayaan diri dalam melakukan penelitian sesuai dengan data dan tujuan yang diinginkan. Namun itu semua tidak mengendorkan penulis dalam mencari data yang cukup, tetapi malah menjadikan motivasi tersendiri dan merupakan tantangan yang menarik untuk diselesaikan.

Hasil penelitian ini tidak bis digeneralisasikan untuk seluruh siswa secara umum di Indonesia, hasil penelitian ini sementara hanya bisa digeneralisasikan untuk tempat penelitian saja,

H. Definisi Istilah atau Definisi Operasional

Untuk memperoleh gambaran yang jelas dan untuk menghindari terjadinya salah persepsi, maka terlebih dahulu akan penulis jelaskan istilah-istilah dalam judul skripsi yang penulis tulis yang selanjutnya disebut variable yang hendak dibahas dalam penelitian ini. Adapun istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut :

1.  Hubungan

Hubungan atau korelasi adalah saling ketergantungan antara satu dengan yang lain atau yang bersangkutan (bertalian) yang satu dengan yang lain, ada sangkut pautnya (W.J.S Poerwodarminta, 1986 : 362). Sedangkan menurrut Sutrisno Hadi, Korelasi adalah “hubungan timbal balik” (Sutrisno Hadi, 2002 :. 271)

Jadi yang dimaksud disini adalah hubungan positif atau negatif antara tingkat perbedaan prestasi siswa kelas VI MIM IV Ulum Islamiyah Tuban dengan kelengkapan sarana pengajarannya.

2. Kelengkapan Sarana

Yang dimaksud kelengkapan sarana adalah tersedianya alat bantu untuk kegiatan belajar dan mengajar yang memadai. Hal ini bisa berupa alat bantu pengajaran berupa alat peraga, audio visual dan alat bantu lainnya untuk membantu kesuksesan proses belajar, sehingga memungkinkan siswa dapat menangkap dengan baik materi yang diajarkan oleh guru.

3. Belajar

Sedangkan belajar menurut Lyle E. Boun, J. R, Brece R. Ekstriando dalam bukunya Drs. H. Mustaqim, M.Pd, yaitu :“Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang diakibatkan oleh pengalaman dan latihan” (Mustaqim,, 2001 : 33)

4. Prestasi Belajar

Kata Prestasi artinya adalah raihan atau hasil belajar,  yaitu apa yang didapatkan oleh sisiwa setelah menadapatkan materi pengajaran. (KBBI,1989: 890)

Menurut Dr. Nana Sudjana prestasi belajar adalah suatu perubahan sebagai hasil dari proses belajar yang dapat ditunjukkan salam berbagai bentuk, seperti perubahan pengetahuan (kognitif), pemahaman, sikap (afektif) dan tingkah laku serta perubahan yang lain yang ada pada individu yang masih belajar (Nana Sudjana, 1989:. 17)

Penelitian ini tidak meneliti ranah afektif melainkan hanya kognitif dan psikomotorik. Adapun hasil belajar dalam penelitian ini sebagai variable (Y) dengan indicator-indikator sebagai berikut :

a.    Nilai kognitif

- Nilai hafalan nama-nama Para Nabi

- Nilai hafalan nama-nama Para Sahabat Nabi

b.    Nilai Psikomotorik

- Nilai praktek adzan seperti Bilal

c.    Nilai Rapor

5. Siswa Kelas VI

Siswa diartikan sebagai pelajar (dalam akademik), (Nana Sudjana, 1989 :17). Adapun maksud siswa dalam penelitian ini adalah siswa yang duduk dibangku kelas VI putra dan putri di MI Ulum Islamiyah Tuban pada saat diadakan penelitian

6. Sejarah Kebudayaan Islam

Yaitu salah satu materi pendidikan agama yang diajarkan di MIM IV “Ulum Islamiyah” Tuban yang berisikan tentang Sejarah Islam sesuai dengan GBPP Pendidikan Agama Islam 2004 pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.

I. Sitematika Pembahasan

Didalam skripsi ini, penulis menyusunnya terdiri dari lima bab yang masing-masing bab berisi sebagai berikut:

Bab satu adalah : Pendahuluan. Bab ini membahas mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis penelitian, manfaat penelitian, asumsi penelitian, ruang lingkup dan batasan penelitian, dan definisi istilah atau definisi operasional.

Bab dua adalah : Kajian Pustaka, membahas Hubungan kelengkapan sarana belajar dengan prestasi siwa kelas VI MI Ulum Islamiyah Tuban terhadap materi Sejarah Kebudayaan Islam; pengertian Kelengkapan sarana belajar, jenis-jenis sarana belajar, Standar Kelengkapan Sarana Belajar sesuai PERMEN DIKNAS, Prestasi Belajar, pengertian Prestasi belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya.  Disamping itu, bab kedua juga berisi tentang teori hubunngan kelengkapan sarana belajar dengan prestasi siswa.

Bab tiga adalah Metode Penelitian, berisi metode penelitian. Bab ini membahas rancangan penelitian, obyek penelitian, data dan sumber data, tehnik pengumpulan data, instrument penelitian dan tehnik analisa data.

Bab empat adalah memaparkan hasil Penelitian, berisi analisa data. Bab ini mencakup penemuan dan pembahasan tingkat perbandingan Hubungan kelengkapan sarana belajar terhadap prestasi siswa kelas VI MI Ulum Islamiyah Tuban dibidang materi Sejarah Kebudayaan Islam dalam peningkatan prestasi belajar siswa di Madrasah Ibtidaiyah Ulum Islamiyah Tuban Tahun Pelajaran 2010/2011. Selain bab ini juga berisi penyajian data berisi tentang gambaran umum obyek penelitian yang terdiri dari : letak geografis MI Ulum Islamiyah Tuban, sejarah singkat MI Ulum Islamiyah Tuban, srtuktur organisasi, keadaan guru, karyawan dan siswa MI Ulum Islamiyah Tuban, sarana dan prasarana MI Ulum Islamiyah Tuban.

Bab lima adalah bab Penutup, berisi kesimpulan dan saran. Bab ini merupakan bagian akhir dari penulisan skripsi, yang terdiri dari : kesimpulan dan saran-saran yang terkait dengan hasil penelitian.

Membuka Pintu-Pintu Rezeki yang Halal

Membuka Pintu-Pintu Rezeki

Oleh :

Masruhin Sahal, S, Pd. I

Disampaikan dalam dauroh 2 Oktober 2011 di Banyuwangi

MUKADIMAH

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره. ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيآت أعملناز من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.

ياأيها الذين آمنوا الله حق تقاته ولا تموتن

ياأيها الذين آمنوا الله حق تقاته ولا تموتن لا وأنتم مسلمون.

ياأيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونسآء، واتقوا الله الذي تسآءلون به والأرحام، إن الله كان عليكم رقيبا.

ياأيها الذين أمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم، ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما.

فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى اله عليه وآله وسلم، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.

أما بعد

Ses ungguhnya segala puji adalah milik Allah. Kitamemuji, memohon pertolongan dan meminta ampunanNya. Kita berlindung kepada Allah dari

kejahatan dan keburukan amal perbuatan kita. Siapa yang ditunjuki Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada yang dapat menunjukinya. Aku ber-saksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. semoga shalawat, salam dan keberkahan dilimpahkan kepada beliau, keluarga, sahabat dan segenap orang yang mengikutinya. Amma ba’-du.

زُيِّن للناس حبّ الشهوات من النساء والبَنِيْنَ والقناطير المُقنْطرة من الذهب والفضة والخيل والمسوَّمة والأنعام والحرث، ذلك متاع الدنيا، والله عنده حسن المآب. آل عمران.

Di antara hal yang menyibukkan hati kebanyakan umat Islam adalah mencari rizki. Dan menurut pengamatan, sejumlah umat Islam memandang bahwa berpegang dengan Islam akan mengurangi rizki mereka. Tidak hanya sebatas itu, bahkan lebih parah dan menyedihkan lagi bahwa ada sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban syari’at Islam tetapi mereka mengira bahwa jika ingin mendapatkan kemudahan dibidang materi dan kemapanan ekonomi hendaknya menutup mata dari sebagian hokum-hukum

Islam, terutama yang berkenaan dengan halal dan haram.

Allah telah menjamin rezeki semua mahluk. Sebagaimana firmannya

وما من دآبة في الأرض إلا على الله رزقها

“Dan tidak ada makhluk bernyawa yang melata di permukaan bumi kecuali Allah lah yang menanggung rizekinya.” (Hud: 6)

وكأين من دآبة لا تحمل رزقها، الله يرزقها وإياكم وهو السميع العليم.

“Dan berapa banyak makhluk bergerak yang bernyawa yang tidak (dapat) membewa (mengurus) rezekinya sendiri, Allah lah yang member rezeki kepadanya dan kepadamu. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Al-Ankabut: 60)

Mereka itu lupa atau pura-pura lupa bahwa Sang Khaliq tidaklah mensyariatkan agamaNya hanya sebagai petun-juk bagi umat manusia dalam perkara-perkara akhirat dan kebahagiaan mereka di sana saja. Tetapi Allah mensyariatkan agama ini juga untuk menunjuki manusia dalam urusan kehidupan dan kebahagiaan mereka di dunia.

Bahkan do’a yang sering dipanjatkan Nabi kita , kekasih Tuhan Semes-ta Alam, yang dijadikanNya sebagai teladan bagi umat ma-nusia adalah:

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

“Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami kebaik-an di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api Neraka.”

Allah dan RasulNya yang mulia tidak meninggalkan umat Islam tanpa petunjuk dalam kegelapan, berada dalam keraguan dalam usahanya mencari penghidupan. Tetapi sebaliknya, sebab-sebab rizki itu telah diatur dan dijelaskan.

Seandainya umat ini mau memahaminya, menyadarinya, berpegang teguh dengannya serta menggunakan sebabsebab itu dengan baik, niscaya Allah Yang Maha Pemberi Rizki dan memiliki kekuatan akan memudahkannya mencapai jalan-jalan untuk mendapatkan rizki dari setiap arah, serta akan dibukakan untuknya keberkahan dari langit dan bumi.

Dalam rangka Amar ma’ruf dan Nahi munkar yang merupakan kewajiban setiap muslim, maka susun tulisan ini untuk mengingatkan dan mengenalkan saudara-saudara sesama muslim tentang berbagai sebab terbukanya pintu-pintu rezeki dan untuk meluruskan pemahaman mereka ten-tang hal ini serta untuk mengingatkan orang yang telah ter-sesat dari jalan yang lurus dalam berusaha mencari rizki, Berikut pintu-pintu pembuka rezeki dengan memohon taufik dari Allah un-tuk mengumpulkan sebagian sebab-sebab untuk mendapat-kan rizki yang halal tersebut dalam buku risalah ini.

Pasal Pertama :

ISTIGHFAR DAN TAUBAT

iantara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah is-tighfar (memohon ampunan) dan taubat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi (kesalahan).

A. Hakikat Istighfar dan Taubat

Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian mere-ka mengucapkan,

أستغفر الله وأتوب إليه

“Aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadaNya”

Tetapi kalimat-kalimat di atas tidak membekas di dalam hati, juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat jenis ini adalah perbuatan orang-orang dusta.

Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani menerangkan: “Dalam istilah syara’, taubat adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha

mela-kukan apa yang bisa diulangi (diganti). Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna”

Imam An-Nawawi dengan redaksionalnya sendiri menjelaskan:

“Para ulama berkata, ‘Bertaubat dari setiap dosa hu-kumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga. Pertama,

hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua, ia harus menyesali per-buatan (maksiat)nya. Ketiga, ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah.

Jika taubat itu berkaitan dengan manusia maka syaratnya ada empat. Ketiga syarat di atas dan keempat, hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika ber-bentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengem-balikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau seje-nisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk mem-balasnya atau meminta maaf kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf.”

Adapun istighfar, sebagaimana diterangkan Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani adalah “Meminta (ampunan) dengan ucapan dan perbuatan. Dan firmanAllah:

استغفروا الله إنه كان غفَارا

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun.” (Nuh: 10).

Tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan meminta ampun hanya dengan lisan semata, tetapi dengan lisan dan perbuatan. Bahkan hingga dikatakan, memohon ampun (istighfar) hanya dengan lisan saja tanpa disertai perbuatan adalah pekerjaan para pendusta.

Taubat merupakan perbuatan yang sangat disukai oleh Allah swt, sebagaimana sabda Nabi saw:

عن أبي هريرة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لله أفرح بتوبة أحدكم من أحدكم بضالته إذا وجدها رواه مسلم

Sudah menjadi fitrohnya manusia itu diciptakan oleh Allah untuk condong kepada syahwat dan nafsunya. Sehingga mereka kadang-kadang terjatuh dalam perbuatan dosa. Sehingga tidak mungkin manusia itu ma’sum dari melakukan kemaksiyatan dan dosa. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh baginda NAbi saw:

عن أبي أيوب قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لولا أنكم تذنبون لخلق الله خلقا يذنبون ويستغفون فيغفر لهم. رواه مسلم

B. Dalil Syar’i Bahwa Istighfar dan Taubat Termasuk Kunci Rizki

Beberapa nash (teks) Al-Qur’an dan Al-Hadits menunjukkan bahwa istighfar dan taubat termasuk sebab-sebab rizki dengan karunia Allah . Di bawah ini beberapa nash dimaksud:

1. Apa yang disebutkan Allah tentang Nuh yang berkata kepada kaumnya :

فقلت استغفروا ربكم إنه كان غفارا . يرسل السماء عليكم مدرارا . ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنات ويجعل لكم أنهارا .

“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu

dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’.” (Nuh: 10-12).

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya berkata: “Makna-nya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadaNya dan kalian senantiasa mentaatiNya niscaya Ia akan membanyakkan rizki kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuhtumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, mem-banyakkan harta dan anak-anak untuk

kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya bermacam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu (untuk kalian).”

Demikianlah, dan Amirul mukminin Umar bin Khaththab juga berpegang dengan apa yang terkandung dalam ayatayat ini ketika beliau memohon hujan dari Allah .

Muthrif meriwayatkan dari Asy-Sya’bi: “Bahwasanya Umar keluar untuk memohon hujan bersama orang ba-nyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, ‘Aku tidak mendengar Anda memohon

hujan’. Maka ia menjawab, ‘Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih langit yang dengannya diharapkan bakal turun air hujan. Lalu beliau membaca ayat:

فقلت استغفروا ربكم إنه كان غفارا . يرسل السماء عليكم مدرارا . ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنات ويجعل لكم أنهارا

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.” (Nuh: 10-11).

Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menganjurkan istighfar (memohon ampun) kepada setiap orang yang mengadukan kepadanya tentang kegersangan, kefakiran, sedikitnya keturunan dan kekeringan kebun-kebun.

Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata: “Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah!” Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah!” Yang lain lagi berkata kepadanya, “Do’akanlah (aku) kepada Allah, agar ia memberiku anak!” Maka beliau mengatakan kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah!” Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya, “Beristighfarlah

kepa-da Allah!”

Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang sama. Dalam riwayat lain disebutkan:

“Maka Ar-Rabi’ bin Shabih berkata kepadanya, ‘Banyak orang yang mengadukan bermacam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk beristighfar.

Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, ‘Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh:

استغفروا ربكم إنه كان غفارا . يرسل السماء عليكم مدرارا . ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنات ويجعل لكم أنهارا

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirim-kan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu ke-bun-kebun

dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungaisungai.” (Nuh: 10-12).

Allahu Akbar! Betapa agung, besar dan banyak buah dari istighfar! Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang pandai beristighfar. Dan karuniakanlah kepada kami buahnya, di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Amin,

wahai Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurus MakhlukNya.

2. Ayat lain adalah firman Allah yang menceritakan ten-tang

seruan Hud kepada kaumnya agar beristighfar.

ويقوم استغفروا ربكم ثم توبوا إليه يرسل السماء عليكم مدرارا ويزدكم قوّةً إلى قوتكم ولا تتولوا مجرمين.

“Dan (Hud berkata), ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan jangan lah kamu berpaling dengan berbuat dosa’.” (Hud:52).

Al-Hafizh Ibnu katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia di atas menyatakan: “Kemudian Hud memerintahkan kaumnya untuk beristighfar yang dengannya dosa-dosa yang lalu dapat dihapuskan, kemudian memerintahkan

mereka bertaubat untuk masa yang akan mereka hadapi.

Barangsiapa memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan memudahkan rizkinya, melancarkan urusannya dan menjaga keadaannya. Karena itu Allah berfirman:

يرسل السماء عليكم مدرارا

“Niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atas-mu”.

3. Ayat yang lain adalah firman Allah:

وإن استغفروا ربكم ثم توبوا إليه يمتِّعْكم متاعا حسنا إلى أجل مسمَّى ويُؤْتِ كل فضل فضله وإن تولّوا فإني أخاف عليكم عذاب يوم كبير

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat.” (Hud: 3).

Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan:

“Inilah buah dari istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberi kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran hidup serta Ia tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan

sebelum kalian.

Dan janji Tuhan Yang Maha Mulia itu diutarakan dalam bentuk pemberian balasan sesuai dengan syaratnya. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata: “Ayat yang mulia tersebut menunjukkan bahwa beristighfar dan bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa adalah sebab sehingga Allah menganugerahkan kenikmatan yang baik kepada orang yang melakukannya sampai pada waktu yang ditentukan.

4. Dalil lain bahwa beristighfar dan taubat adalah di antara kunci-kunci rizki yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim

dari Abdullah bin Abbas ia berkata, Rasulullah bersabda:

من لزم الإستغفار جعل الله له من كل ضِيْق مخرجا ومن كل همًّ فرجا ورزقه من حيث لا يحتسب

“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitan-nya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka”.

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang jujur dan terpercaya, yang berbicara berdasarkan wahyu, mengabarkan tentang tiga hasil yang dapat dipetik oleh orang yang mem-perbanyak istighfar. Salah satunya yaitu,

bahwa Allah Yang Maha Memberi rizki, yang Memiliki kekuatan akan mem-berikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak diharapkan serta tidak pernah terdetik dalam hatinya.

Pasal Kedua :

TAQWA

Termasuk sebab turunnya rizki adala taqwa. Saya

a. Makna taqwa.

b. Dalil syar’i bahwa taqwa termasuk kunci rizki.

A. MAKNA TAQWA

Para ulama telah menjelaskan apa yang dimaksud dengan taqwa. Dianta ranya, Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani mendefinisikan: “Taqwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dan itu dengan  meninggalkan apa yang dilarang, menjadi sempurna dengan meninggalkan

sebagian yang dihalalkan”.

B. DALIL SYAR’I BAHWA TAQWA TERMASUK KUNCI

RIZKI

Beberapa nash yang menunjukkan bahwa taqwa terma-suk

di antara sebab rizki, Di antaranya:

1. Firman Allah:

ومن يتق الله يجعل له مخرجا . ويرزقه من حيث لا يحتسب

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).

Dalam ayat di atas, Allah menjelaskan bahwa orang yang merealisasikan taqwa akan dibalas Allah dengan dua hal.

Alangkah agung dan besar buah taqwa itu! Abdullah bin Mas’ud berkata: “Sesungguhnya ayat terbesar dalam hal pemberian janji jalan keluar adalah: “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya”.

2. Ayat lainnya adalah firman Allah:

ولو أن أهل القرى ءامنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada me-reka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendus-takan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka di-sebabkan perbuatan mereka sendiri”. (Al -A’raf: 96).

Janji Allah yang terdapat dalam ayat yang mulia tersebut terhadap orang-orang beriman dan bertaqwa mengandung beberapa hal, di antaranya:

a. Janji Allah untuk membuka (keberkahan) bagi mereka.

Imam Al-Baghawi berkata, Ia berarti mengerjakan sesuatu secara terus menerus. Atau seperti kata Imam Al-Khazin, “Tetapnya suatu kebaikan Tuhan atas sesuatu.”

Tentang hal ini, Sayid Muhammad Rasyid Ridha berkata:

“Adapun orang-orang beriman maka apa yang dibukakan untuk mereka adalah berupa berkah dan kenikmatan. Dan untuk hal itu, mereka senantiasa bersyukur kepada Allah, ridha terhadapNya dan mengharapkan karuniaNya. Lalu mereka menggunakannya di jalan kebaikan, bukan jalan keburukan, untuk perbaikan bukan untuk merusak. Sehingga balasan bagi mereka dari Allah adalah ditambahnya berbagai kenikmatan di dunia dan pahala

yang baik di akhirat.”

3. Ayat lainnya adalah firman Allah:

ولو أنهم أقاموا التوراة والإنجيل وما أنزل إليهم من ربهم لأكلوا من فوقهم ومن تحت أرجلهم  منهم أمة مقتصدة وكثير منهم سـآء ما يعملون

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan pertengah-an. Dan alangkah

buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka”. (Al-Ma’idah: 66).

Allah mengabarkan tentang Ahli Kitab, ‘Bahwa seandainya mereka mengamalkan apa yang ada di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an �demikian seperti dikatakan oleh Abdullah bin Abbas dalam menafsirkan ayat tersebut,� niscaya Allah memperbanyak rizki yang diturunkan kepada mereka dari langit dan yang tumbuh untuk mereka dari bumi.

Syaikh Yahya bin Umar Al-Andalusi berkata: “Allah menghendaki �wallahu a’lam� bahwa seandainya mereka mengamalkan apa yang diturunkan di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an, niscaya mereka memakan dari atas dan dari

bawah kaki mereka. Maknanya �wallahu’alam�, niscaya mereka diberi kelapangan dan kesempurnaan nikmat.

Imam Al-Qurthubi mengatakan, “Dan sejenis dengan ayat ini adalah firman Allah:

ومن يتق الله يجعل له مخرجا . ويرزقه من حيث لا يحتسب

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq:2-3).

وأنْ لَوِ استقاموا على الطريقة لأسقيناهم مآءً غدقا

“Dan bahwasanya jika mereka tetap berjalan di atas ja-lan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang ba-nyak).” (Al -Jin: 16).

ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada me-reka berbagai keberkahan dari langit dan bumi.” (Al -A’raf: 96).

Pasal Ketiga :

BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH

Termasuk di antara sebab diturunkannya rizki adalah

bertawakkal kepada Allah dan Yang kepadaNya

tempat bergantung.

A. Yang Dimaksud Bertawakkal kepada Allah

Para ulama �semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan� telah menjelaskan makna tawakkal. Di antaranya adalah Imam Al-Ghazali, beliau berkata: “Tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakkali) semata.”

Al-Allamah Al-Manawi berkata: “Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang di tawakkali.”

B. Dalil syar’i Bahwa Bertawakkal kepada Allah Termasuk Kunci Rizki

Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Muba-rak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qhudha’i dan Al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab bahwa Rasulullah bersabda:

لو أنكم كنتم توكلون على الله حق توكله لرزقتم كما ترزق الطير تغدو خماصا وتروح بطانا

“Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”

Karena itu, barangsiapa bertawakkal kepada- Nya, niscaya Allah akan mencukupinya. Allah berfirman:

ومن يتوكل على الله فهو حسبُه

“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiaptiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3).

Menafsirkan ayat tersebut, Ar-Rabi’ bin Khutsaim mengatakan:

“(Mencukupkan) diri setiap yang membuat sempit manusia”.

C. Apakah Tawakkal itu Berarti Mening-galkan Usaha?

Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau masjid seraya berkata, ‘Aku tidak mau bekerja sedikit pun, sampai rizkiku dating sendiri’. Maka beliau berkata, Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi bersabda:

لقد جعل الله رِزْكِيْ تحت رمْحِيْ

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku melalui panahku.”

Dan beliau bersabda:

لو أنكم كنتم توكلون على الله حق توكله لرزقتم كما ترزق الطير تغدو خماصا وتروح بطانا

“Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar- benar tawakkal, niscaya Allah memberimu rizki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”

Dalam hadits tersebut dikatakan, burung-burung itu berangkat pagi-pagi dan pulang sore hari dalam rangka men-cari rizki.

Selanjutnya Imam Ahmad berkata: “Para Sahabat berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita”.

Syaikh Abu Hamid berkata: “Barangkali ada yang mengi-ra bahwa makna tawakkal adalah , meninggalkan pekerjaan secara fisik, meninggalkan perencanaan dengan akal serta menjatuhkan diri di atas tanah seperti sobekan kain yang di-lemparkan, atau seperti daging di atas landasan tempat me-motong daging. Ini adalah sangkaan orang-orang bodoh.

Semua itu adalah haram menurut hukum syari’at.

Di antara yang menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah tidaklah berarti meninggalkan usaha adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya , ia berkata:

قال الرجل إلى النبي هل أفلتُّ الجمل ثم أتَّكِل ؟ قال النبي صلى الله عليه وسلم : اعْقِلْ ثم اتَّكِل

“Seseorang berkata kepada Nabi , Aku lepaskan unta-ku dan (lalu) aku bertawakkal?’ Nabi bersabda: ‘Ikatlah kemudian bertawakkallah’.”

Dan dalam riwayat Al-Qudha’i disebutkan:

“Amr bin Umayah berkata: ‘Aku bertanya,’Wahai Rasulullah, Apakah aku ikat dahulu (tunggangan)ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal?’ Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaran (unta)mu lalu bertawakkallah’.”

Pasal Keempat :

BERIBADAH KEPADA ALLAH SEPENUHNYA

Diantara kunci-kunci rizki adalah beribadah kepada Allah sepenuhnya.

A. Makna beribadah kepada Allah sepenuhnya.

B. Dalil syar’i bahwa beribadah kepada Allah sepenuhnya

adalah di antara kunci-kunci rizki.

A. Makna Beribadah Kepada Allah Sepenuhnya.

Hendaknya seseorang tidak mengira bahwa yang dimak-sud beribadah sepenuhnya adalah dengan meninggalkan usaha untuk mendapatkan penghidupan dan duduk di masjid sepanjang siang dan malam. Tetapi yang dimaksud � wallahu a’lam� adalah hendaknya seorang hamba beribadah

dengan hati dan jasadnya, khusyu’ dan merendahkan diri dihadapan Allah Yang Maha Esa, menghadirkan (dalam hati) betapa besar keagungan Allah, benar-benar merasa bahwa ia sedang bermunajat kepada Allah Yang Maha Menguasai dan Maha Menentukan. Yakni beribadah sebagaimana yang

disebutkan dalam sebuah hadits:

أن تعبدوا الله كأنك تراه وإن لم تكن تراه فإنه يراك

“Hendaknya kamu beribadah kepada Allah seakan-akan

kami melihatNya. Jika kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Al-Mulla Ali Al-Qari berkata, “Maknanya, jadikanlah hatimu benar-benar sepenuhnya (berkonsentrasi) untuk beribadah kepada Tuhan-mu”.

B. DALIL SYAR’I BAHWA BERIBADAH KEPADA ALLAH SEPENUHNYA TERMASUK KUNCI RIZKI

Ada beberapa nash yang menunjukkan bahwa beribadah sepenuhnya kepada Allah termasuk di antara kunci-kunci rizki. Beberapa nash tesebut di antaranya adalah:

1. Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abu Hurairah , dari Nabi beliau bersabda:

إن الله تعالى يقول : يا إبن أدم تفرَّغْ لعبادتي أملأ صدرك غنى وأسدُّ فقرك. وإلا تفعل ملأْتُ يديك شعثا ولم أسدَّ فقرك

“Sesungguhnya Allah berfirman, ‘wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, nis-caya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)’.”

2. Hadits riwayat Imam Al-Hakim dari Ma’qal bin Yasar ia berkata, Rasulullah bersabda:

“Tuhan kalian berkata, ‘Wahai anak Adam, beribadah-lah kepadaKu sepenuhnya, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam, jangan jauhi Aku sehingga Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tangamu

dengan kesibukan.”

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang mulia, yang berbicara berdasarkan wahyu mengabarkan tentang janji Allah, yang tak satu pun lebih memenuhi janji daripadaNya, berupa dua jenis pahala bagi orang yang benar-benar beribadah kepada Allah sepenuhnya. Yaitu, Allah pasti memenuhi hatinya dengan kekayaan dan kedua tangannya dengan rizki. Sebagaimana Nabi juga memperingatkan akan ancam-an Allah kepada orang yang menjauhiNya dengan dua jenis siksa. Yaitu Allah pasti memenuhi hatinya dengan kefakiran dan kedua tangannya dengan kesibukan.

Pasal Kelima :

MELANJUTKAN HAJI DENGAN UMRAH

ATAU SEBALIKNYA

Diantara perbuatan yang dijadikan Allah termasuk

kunci-kunci rizki yaitu melanjutkan haji dengan

umrah atau sebaliknya.

A. Yang dimaksud melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya.

B. Dalil syar’i bahwa melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya termasuk pintu-pintu rizki.

A. Yang Dimaksud Melanjutkan Haji Dengan Umrah Atau Sebaliknya

Syaikh Abul Hasan As-Sindi menjelaskan tentang mak-sud melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya berkata:

“Jadikanlah salah satunya mengikuti yang lain, di mana ia dilakukan sesudahnya. Artinya, jika kalian menunaikan haji maka tunaikanlah umrah. Dan jika kalian menunaikan umrah maka tunaikanlah haji, sebab keduanya saling mengikuti.

B. Dalil Syar’i Bahwa Melanjutkan Haji Dengan Umrah

Atau Sebaliknya Termasuk Kunci Rizki

Di antara hadits-hadits yang menunjukkan bahwa melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya termasuk kuncikunci rizki adalah :

1. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Hibban meriwayatkah dari Abdullah bin Mas’ud berkata, Rasulullah bersabda:

تابعوا بين الحج والعمرة فإنهما يذهبان الفقر والذنوب كما ينقي الكير خبيث الحديد والذهب والفضةوليس الحج المبرور ثواب إلا الجنة

“Lanjutkanlah haji dengan umrah, karena sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa, sebagaimana api dapat menghilangkan kotoran besi, emas dan perak. Dan tidak ada pahala haji yang mabrur itu melainkan Surga”.

Imam Ibnu Hibban member judul hadits ini dalam kitab shahihnya dengan:

“Keterangan Bahwa Haji dan Umrah Menghilangkan Dosadosa dan Kemiskinan dari Setiap Muslim dengan Sebab Keduanya.”

Sedangkan Imam Ath-Thayyibi dalam menjelaskan sabda Nabi :

“Sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa”, dia berkata, “Kemampuan keduanya untuk menghilangkan kemiskinan seperti kemampuan amalan ber-sedekah dalam menambah harta.”

2. Hadits riwayat Imam An-Nasa’i dari Ibnu Abbas c, ia berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda:

تابعوا بين الحج والعمرة أو أكسهما فإنهما يذهبان الفقر والذنوب كما ينقي النار خبيث الحديد

“Lanjutkanlah haji dengan umrah atau sebaliknya. Kare-na sesungguhnya keduanya dapat menghilangkan kemis-kinan dan dosa-dosa sebagaimana api dapat menghi-langkan kotoran besi.”

Maka orang-orang yang menginginkan untuk dihilangkan kemiskinan dan dosa-dosanya, hendaknya ia segera melanjutkan hajinya dengan umrah atau sebaliknya.

Pasal Keenam :

SILATURRAHIM

Diantara pintu-pintu rizki adalah silaturrahim.

A. Makna silaturrahim.

B. Dalil syar’i bahwa silaturrahim termasuk di antara pintu-pintu rizki.

C. Apa saja sarana untuk silaturrahim?

D. Tata cara silaturrahim dengan para ahli maksiat.

A. Makna Silaturrahim

Makna “ar-rahim” adalah para kerabat dekat. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ar-rahim” secara umum adalah dimaksudkan untuk para kerabat dekat. Antara mereka terdapat garis nasab (keturunan), baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak.”

Menurut pendapat lain, mereka adalah maharim (para kerabat dekat yang haram dinikahi) saja.

Pendapat pertama lebih kuat, sebab menurut batasan yang kedua, anak-anak paman dan anak-anak bibi bukan kerabat dekat karena tidak termasuk yang haram dinikahi, padahal tidak demikian.”

Silaturrahim, sebagaimana dikatakan oleh Al-Mulla Ali Al- Qari adalah kinayah (ungkapan/sindiran) tentang berbuat baik kepada para karib kerabat dekat �baik menurut garis keturunan maupun perkawinan� berlemah lembut dan mengasihi mereka serta menjaga keadaan mereka.

B. Dalil Syar’i Bahwa Silaturrahim Termasuk Kunci Rizki

Beberapa hadits dan atsar menunjukkan bahwa Allah menjadikan silaturrahim termasuk di antara sebab kelapang-an rizki. Di antara hadits-hadits dan atsar-atsar itu adalah:

1. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah , ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah bersabda:

من سره أن يبسط له في رزقه، وأن ينسأ له في أثره فليصل رحمه

“Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaknyalah ia menyambung (tali) silaturrahim”.

2. Dalil lain adalah hadits riwayat Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah bersabda:

من سره أن يبسط له في رزقه، وأن يؤخَّر أجله فليصل رحمه

“Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung silaturrahim.”

Imam Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits Anas bin Malik dalam kitab shahihnya dan beliau memberi judul dengan: “Keterangan Tentang Baiknya Kehidupan dan Banyaknya Berkah dalam Rizki Bagi Orang Yang Menyambung

Silaturrahim.

3. Dalil lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah , dari Nabi beliau bersabda:

تعلَّمُوا من أنسابكم ما تَصِلون به أرحامكم، فإنّ صِلة الرَّحِمِ محبَّةٌ في الأهل مَثْرَاةٌ في المال، منْسَأةٌ في العمر

“Belajarlah tentang nasab-nasab kalian sehingga kalian bias menyambung silaturrahim. Karena sesungguhnya silaturrahim adalah (sebab adanya) kecintaan terhadap keluarga (kerabat dekat), (sebab) banyaknya harta dan bertambahnya usia.”

4. Dalil lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abdullah bin Ahmad, Al-Bazzar dan Ath-Thabrani dari Ali bin Abi Thalib dari Nabi , beliau bersabda:

من سره أن يبسط له في رزقه، وأن ينسأ له في أثره ويبعد من سوء الموت فليتق الله وليصل رحمه

“Barangsiapa senang untuk dipanjangkan umurnya dan diluaskan rizkinya serta dihindarkan dari kematian yang buruk maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturrahim.”

6. Demikian besarnya pengaruh silaturrahim dalam berkembangnya harta benda dan menjauhkan kemiskinan, sam-pai-sampai ahli maksiat pun, disebabkan oleh silaturrahim, harta mereka bisa berkembang, semakin

banyak jumlahnya dan mereka jauh dari kefakiran, karena karunia Allah .

Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Bakrah dari Nabi bahwasanya beliau bersabda:

“Sesungguhnya keta’atan yang paling disegerakan pahalanya adalah silaturrahim. Bahkan hingga suatu keluar-ga yang ahli maskiat pun, harta mereka bisa berkembang dan jumlah mereka bertambah banyak jika mereka saling bersilaturrahim. Dan tidaklah ada suatu keluarga yang

saling bersilaturrahim kemudian mereka membutuhkan (kekurangan).”

C. APA SAJA SARANA UNTUK SILATURRAHIM?

Sebagian orang menyempitkan makna silaturrahim hanya dalam masalah harta. Pembatasan ini tidaklah benar. Sebab yang dimaksud silaturrahim lebih luas dari itu.

Silaturrahim adalah usaha untuk memberikan kebaikan kepada kerabat dekat serta (upaya) untuk menolak keburukan dari mereka, baik dengan harta atau dengan lainnya.

Imam Ibnu Abu Jamrah berkata: “Silaturrahim itu bias dengan harta, dengan memberikan kebutuhan mereka, dengan menolak keburukan dari mereka, dengan wajah yang berseri-seri serta dengan do’a.”

Makna silaturrahim yang lengkap adalah memberikan apa saja yang mungkin diberikan dari segala bentuk kebaik-an, serta menolak apa saja yang mungkin bisa ditolak dari keburukan sesuai dengan kemampuannya (kepada kerabat dekat).

D. Tata Cara Silaturrahim dengan Para Ahli Maksiat

Sebagian orang salah dalam memahami tata cara silaturrahim dengan para ahli maksiat. Mereka mengira bahwa bersilaturrahim dengan mereka berarti juga mencintai dan menyayangi mereka, bersama-sama duduk dalam satu maje-lis dengan mereka, makan bersama-sama mereka serta bersi-kap lembut dengan mereka. Ini adalah tidak benar.

Semua memaklumi bahwa Islam tidak melarang berbuat baik kepada kerabat dekat yang suka berbuat maksiat, bahkan hingga kepada orang-orang kafir. Allah berfirman:

لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم في الدين ولم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم وتقسطوا إليهم إن الله يحب المقسطين

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan ber-laku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi-mu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8).

Demikian pula sebagaimana disebutkan dalam hadits Asma’ binti Abu Bakar c yang menanyakan Rasullah untuk bersilaturrahmi kepada ibunya yang musyrik. Dalam hadits ini diantaranya disebutkan:

“Aku bertanya, ‘Sesungguhnya ibuku datang dan ia sangat berharap, apakah aku harus menyambung (silaturrahim) dengan ibuku?’ Beliau menjawab, ‘Ya, sambunglah (silaturrahim) dengan ibumu’.”

Tetapi, itu bukan berarti harus saling mencintai dan menyayangi, duduk-duduk satu majelis dengan mereka. Bersama- sama makan dengan mereka serta bersikap lembut dengan orang-orang kafir dan ahli maksiat tersebut. Allah berfirman:

لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الآخر يوآدّون من حآدّ الله ورسوله ولو كانوا آبآئهم أو أبنآءهم أو إخوانهم أو عشيرتهم

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang ber-iman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih saying dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-sudara atau pun keluarga me-reka.” (Al-Mujadilah:22).

Makna ayat yang mulia ini �sebagaimana disebutkan oleh Imam Ar-Razi� adalah bahwasanya tidak akan bertemu antara iman dengan kecintaan kepada musuh-musuh Allah. Karena jika seseorang mencintai orang lain maka tidak mungkin ia akan mencintai musuh orang tersebut. Dan berdasarkan ayat ini, Imam Malik menyatakan bolehnya memusuhi kelompok Qadariyah dan tidak duduk satu majelis dengan mereka.

Imam Al-Qurthubi mengomentari dasar hukum Imam Malik:

“Saya berkata, ‘Termasuk dalam makna kelompok Qadariyah adalah semua orang yang zhalim dan yang suka memusuhi’.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia tersebut berkata: “Artinya, mereka tidak saling men-cintai dengan orang yang suka menentang (Allah dan Rasul-Nya), bahkan meskipun mereka termasuk kerabat dekat.”

Sebaliknya, silaturrahim dengan mereka adalah dalam upaya untuk menghalangi mereka agar tidak mendekat kepada Neraka dan menjauhi dari Surga. Tetapi, bila kondisi mengisyaratkan bahwa untuk mencapai tujuan

tersebut ada-lah dengan cara memutuskan hubungan dengan mereka, maka pemutusan hubungan tersebut � dalam kondisi demi-kian� dapat dikategorikan sebagai silaturrahim.

Dalam hal ini, Imam Ibnu Abu Jamrah berkata: “Jika mereka itu orang-orang kafir atau suka berbuat dosa maka memutuskan hubungan dengan mereka karena Allah adalah (bentuk) silaturrahim dengan mereka. Tapi dengan syarat telah ada usaha untuk menasehati dan memberitahu mereka, dan mereka masih terus membandel. Kemudian, hal itu (pe-mutusan silaturrahim) dilakukan karena mereka tidak mau menerima kebenaran. Meskipun demikian, mereka masih te-tap berkewajiban mendo’akan mereka

tanpa sepengetahuan mereka agar mereka kembali ke jalan yang lurus.

Pasal Ketujuh :

BERINFAK DI JALAN ALLAH

Diantara kunci-kunci rizki lain adalah berinfak di jalan Allah.

A. Yang dimaksud berinfak.

B. Dalil syar’i bahwa berinfak di jalan Allah adalah

termasuk kunci-kunci rizki.

A. Yang Dimaksud Berinfak

Di tengah-tengah menafsirkan firman Allah:

وما أنفقتم من شيء فهو يخلفه وهو خير الرازقين

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, niscaya Dia akan menggantinya”. (Saba’: 39).

Syaikh Ibnu Asyur berkata: “Yang dimaksud dengan infak disini adalah infak yang dianjurkan dalam agama. Seperti berinfak kepada orang-orang fakir dan berinfak di jalan Allah untuk menolong agama.”

B. Dalil Syar’i Bahwa Berinfak di Jalan Allah Adalah Termasuk Kunci Rizki

Ada beberapa nash dalam Al-Qur’anul Karim dan Al-Hadits Asy-Syarif yang menunjukkan bahwa orang yang berinfak di jalan Allah akan diganti oleh Allah di dunia. Di samping, tentunya apa yang disediakan oleh Allah baginya dari pahala yang besar di akhirat. Di antara dalil-dalil itu adalah sebagai berikut:

1. Firman Allah:

وما أنفقتم من شيء فهو يخلفه وهو خير الرازقين

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rizki yang se-baikbaiknya.” (Saba’: 39).

Dalam menafsirkan ayat di atas, Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Betapapun sedikit apa yang kamu infakkan dari apa yang diperintahkan Allah kepadamu dan apa yang diper-bolehkanNya, niscaya Dia akan menggantinya untukmu di dunia, dan di akhirat engkau akan diberi

pahala dan gan-jaran, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits�”

Imam Ar-Razi berkata, “Firman Allah: ‘Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya’, adalah realisasi dari sabda Nabi : “Tidaklah para hamba berada di pagi hari�. ” (Al -Hadits). Yang demikian itu karena Allah adalah Penguasa, Maha Tinggi dan Maha Kaya. Maka jika Dia berkata: “Nafkahkanlah dan Aku yang akan menggantinya,’ maka itu sama dengan janji yang pasti ia tepati. Sebagaimana jika Dia berkata: “Lemparkanlah barangmu ke dalam laut dan Aku yang menjaminnya”

Maka, barangsiapa berinfak berarti dia telah memenuhi syarat untuk mendapatkan ganti. Sebaliknya, siapa yang tidak berinfak maka hartanya akan lenyap dan ia tidak berhak mendapatkan ganti. Hartanya akan hilang tanpa ganti, arti-nya lenyap begitu saja.

Dan menafkahkan kepada keluarga dan anak-anak adalah berarti memberi pinjaman. Semuanya itu berada dalam jaminan kuat, yaitu Allah Yang Maha Tinggi. Allah berfirman: “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan

maka Dia pasti manggantinya.”

Ibnu Asyur berkata:

“Allah menegaskan janji tersebut dengan kalimat bersyarat, dan dengan menjadikan jawaban dari kali-mat bersyarat itu dalam bentuk jumlah ismiyah dan dengan mendahulukan musnad ilaiah (sandaran) terhadap khabar fi’ilnya. Dengan demikian, janji tersebut ditegaskan dengan tiga pene-gasan yang menunjukkan bahwa Allah benar-benar akan merealisasikan janji itu. Sekaligus menunjukkan bahwa ber-infak adalah sesuatu yang dicintai Allah.

2. Dalil lain adalah firman Allah:

الشيطان يعدكم الفقر ويأمركم بالفخشآء والله يعدكم مغفرة منه وفضلا، والله واسع عليم

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (Al -Baqarah: 268).

Al-Qadhi Ibnu Athiyah menafsirkan ayat ini berkata:

“Maghfirah (ampunan Allah) adalah janji Allah bahwa Dia akan menutupi kesalahan segenap hambaNya di dunia dan di akhirat. Sedangkan al-fadhl (karunia) adalah rizki yang luas di dunia, serta pemberian nikmat di akhirat, dengan segala apa yang telah dijanjikan Allah .

Imam Ibnu Qayim Al-Jauziyah dalam menafsirkan ayat yang mulia ini berkata: “Demikianlah, peringatan setan bah-wa orang yang menginfakkan hartanya, bisa mengalami kefakiran bukanlah suatu bentuk kasih sayang setan kepadanya, juga bukan suatu bentuk nasihat baik untuknya.

Ada-pun Allah, maka Ia menjanjikan kepada hambaNya ampunan dosa-dosa daripadaNya, serta karunia berupa penggantian yang lebih baik daripada yang ia infakkan, dan ia dilipatgan-dakanNya baik di dunia saja atau di dunia dan di akhirat.”

3. Dalil lain adalah hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah , Nabi memberitahukan kepadanya:

قال الله تبارك وتعالى: يا ابن آدم ! أنفق أنفق عليك

“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberi rizki) kepadaMu.”

Imam An-Nawawi berkata: “Firman Allah, ‘Berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberi rizki) kepadamu’ adalah makna dari firman Allah dalam Al-Qur’an:

وما أنفقتم من شيء فهو يخلفه

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Dia-lah yang akan menggantinya.” (Saba’: 39).

Ayat ini mengandung anjuran untuk berinfak dalam berbagai bentuk kebaikan, serta berita gembira bahwa semua itu akan diganti atas karunia Allah .

4. Dalil lain bahwa berinfak di jalan Allah adalah di antara kunci-kunci rizki yaitu apa yang diriwayatkan oleh Imam Al- Bukhari dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda:

“Tidaklah para hamba berada di pagi hari kecuali di dalamnya terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdo’a, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang berinfak ganti (dari apa yang ia infakkan)’. Sedang yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan (hartanya) kebinasaan (hartanya)’.”

Hal itu berdasarkan firman Allah:

وما أنفقتم من شيء فهو يخلفه وهو خير الرازقين

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Dia-lah yang akan menggantinya. Dan Dialah sebaik-baik Pemberi rizki.” (Saba’: 39).

Dan diketahui secara umum bahwa do’a malaikat adalah dikabulkan, sebab tidaklah mereka mendo’akan bagi seseorang melainkan dengan izinNya. Allah berfirman:

ولا يشفعون إلا لمن ارتضى وهم من خشيته مشفقون

“Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya.” (Al -Anbiya’: 28).

5. Dalil lain adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Al- Baihaqi dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda:

يا بلال أنفق ولا تخفْ من ضيق ذي العرش

“Berinfaklah wahai Bilal! Jangan takut dipersedikit (hartamu) oleh Dzat Yang Memiliki Arsy.”

Berikut ini kami ringkaskan satu bukti dalam masalah ini.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi beliau bersabda:

“Ketika seorang laki-laki berada di suatu tanah lapang bumi ini, tiba-tiba ia mendengar suara dari awan, ‘Sira-milah kebun si fulan!’ Maka awan itu berarak menjauh dan menuangkan airnya di areal tanah yang penuh de-ngan batubatu hitam. Di sana ada aliran air yang me-nampung air tersebut. Lalu orang itu mengikuti kemana air itu mengalir.

Tiba-tiba ia (melihat) seorang laki-laki yang berdiri di kebunnya. Ia mendorong air tersebut dengan skopnya (ke dalam kebunnya). Kemudian ia bertanya, ‘Wahai hamba Allah! Siapa namamu?’ Ia menjawab, ‘Fulan’, yakni nama yang didengar di awan. Ia balik bertanya, “Wahai hamba

Allah, kenapa engkau menanyakan namaku?’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang menurunkan air ini. Suara itu berkata, ‘Siramilah kebun si fulan! Dan itu adalah namamu. Apa sesungguhnya yang

engkau laku-kan?’ Ia menjawab, “Jika itu yang engkau tanyakan, maka sesungguhnya aku memperhitungkan hasil yang didapat dari kebun ini, lalu aku bersedekah dengan sepertiganya, dan aku makan beserta keluargaku sepertiganya lagi, kemudian aku kembalikan (untuk menanam

lagi) sepertiganya’.”

Pasal Kedelapan :

MEMBERI NAFKAH KEPADA ORANG YANG

SEPENUHNYA MENUNTUT ILMU SYARI’AT

(AGAMA)

Termasuk kunci-kunci rizki adalah memberi nafkah

ke-pada orang yang sepenuhnya menuntut ilmu

syari’at (agama). Dalil yang menunjukkan hal ini

adalah hadits riwayat At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Anas bin Malik bahwasanya ia berkata:

“Dahulu ada dua orang saudara pada masa Rasulullah. Salah seorang daripadanya mendatangi Nabi dan (saudaranya) yang lain bekerja. Lalu saudaranya yang bekerja itu mengadu kepada Nabi maka beliau bersabda:

Mudah-mudahan engkau diberi rizki dengan sebab dia.”

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang mulia menje-laskan kepada orang yang mengadu kepadanya karena kesi-bukan saudaranya dalam menuntut ilmu agama, sehingga membiarkannya sendirian mencari penghidupan (bekerja),

bahwa ia tidak semestinya mengungkit-ungkit nafkahnya ke-pada saudaranya, dengan anggapan bahwa rizki itu datang karena dia bekerja. Padahal ia tidak tahu bahwasanya Allah membukakan pintu rizki untuknya

karena sebab nafkah yang ia berikan kepada suadaranya yang menuntut ilmu agama secara sepenuhnya.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits:

فإنكم إنما ترزقون بضعفاءكم

“Bukanlah kalian diberi rizki karena sebab orang-orang lemah di antara kalian?” Tetapi bisa pula kembali kepada orang yang diajaknya bicara untuk mengajakanya berfikir dan merenungkan, sehingga ia menjadi sadar.”

Demikianlah, dan sebagian ulama telah menyebutkan bahwa orang-orang yang mempelajari ilmu agama secara sepenuhnya adalah termasuk kelompok orang yang disinggung dalam firman Allah:

للفقراء الذين أحصروا في سبيل الله لا يستطيعون ضربا في الأرض يحسبهم الحاهل أغنيآء من التعفف تعرفهم بسيماهم لا يسألون الناس غلحافا، وما تنفقوا من خير فإن الله به عليم

“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah, mereka tidak dapat (beru-saha) di muka bumi, orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari me-minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang

baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (Al -Baqarah: 273).

Imam Al-Ghazali berkata: “Ia harus mencari orang yang tepat untuk mendapatkan sedekahnya. Misalnya para ahli ilmu. Sebab hal itu merupakan bantuan baginya untuk (mempelajari) ilmunya. Ilmu adalah jenis ibadah yang paling mulia, jika niatnya benar. Ibnu Al-Mubarak senantiasa mengkhususkan kebaikan (pemberiannya) bagi para ahli ilmu. Ketika dikatakan kepada beliau, “Mengapa tidak engkau berikan pada orang secara umum?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui suatu kedudukan setelah kenabian yang lebih utama daripada kedudukan

para ulama. Jika hati para ulama itu sibuk mencari kebutuhan (hidupnya), niscaya ia tidak bisa member perhatian sepe-nuhnya kepada ilmu, serta tidak akan bias belajar (dengan baik). Karena itu, membuat mereka bias mempelajari ilmu secara sepenuhnya adalah lebih utama.”

Pasal Kesembilan :

BERBUAT BAIK KEPADA ORANG-ORANG LEMAH

Termasuk di antara kunci-kunci rizki adalah berbuat baik kepada orang-orang miskin. Nabi menjelaskan bahwa para hamba itu ditolong dan diberi rizki disebabkan oleh orang-orang yang lemah di antara mereka.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Mush’ab bin Sa-’dan ia berkata, ‘Bahwasanya Sa’dan merasa dirinya memiliki kelebihan daripada orang lain. Maka Rasulullah bersabda:

فإنكم إنما ترزقون بضعفاءكم

“Bukankah kalian ditolong dan diberi rizki lantaran orangorang lemah di antara kalian?”

Karena itu, siapa yang ingin ditolong Allah dan diberi rizki olehNya maka hendaknya ia memuliakan orang-orang lemah dan berbuat baik kepada mereka.”

Imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Hibban dan Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Darda’ bahwasanya ia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda:

ابتغوا رضائي بالضعيف فإنكم إنما ترزقون وتنصرون بضعفاءكم

“Carilah (keridhaan)ku melalui orang-orang lemah di antara kalian. Karena sesungguhnya kalian diberi rizki dan ditolong dengan sebab orang-orang lemah di antara kalian.”

Menjelaskan sabda Nabi di atas Al-Mulla Ali Al-Qari berkata, “Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang miskin di antara kalian.”

Pasal Kesepuluh :

HIJRAH DI JALAN ALLAH

Allah menjadikan hijrah di jalan Allah sebagai kunci di antara kunci-kunci rizki.

a. Makna hijrah di jalan Allah .

b. Dalil syar’i bahwa hijrah di jalan Allah termasuk

kunci rizki.

A. MAKNA HIJRAH DI JALAN ALLAH

Hijrah sebagaimana dikatakan oleh Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani adalah keluar dari negeri kafir kepada negeri iman, sebagaimana para sahabat yang berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Dan hijrah di jalan Allah itu, sebagaimana dikatakan oleh Sayid Muhammad Rasyid Ridha harus dengan sebenarbenarnya.

Artinya, maksud orang yang berhijrah dari negeri-nya itu adalah untuk mendapatkan ridha Allah dengan mene-gakkan agamaNya yang ia merupakan

kewajiban baginya, dan merupakan sesuatu yang dicintai Allah, juga untuk me-nolong saudara-saudaranya yang beriman dari permusuhan orang-orang kafir.

B. Dalil Syar’i Bahwa Hijrah di Jalan Allah Termasuk Kunci Rizki

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa berhijrah di jalan Allah termasuk kunci rizki adalah firman Allah:

ومنْ يُهاجِرْ في سبيل الله يجِدْ في الأرض مُرَاغَمًا كثيرا وَسَعَة

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak.”(An-Nisa’: 100)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah menjanjikan bahwa orang yang berhijrah di jalan Allah akan mendapati dua hal:

Ketika para sahabat meninggalkan rumah-rumah, harta benda dan kekayaan mereka untuk hijrah di jalan Allah , Allah serta merta mengganti semuanya. Allah memberikan kepada mereka kunci-kunci negeri Syam, Persia dan Yaman. Allah berikan kepada mereka kekuasaan atas istana-istana negeri Syam yang merah, juga istana Mada’in yang putih. Kepada mereka juga dibukakan pintu-pintu Shan’a, serta ditundukkan untuk mereka berbagai simpanan kekayaan Kaisar dan Kisra.

Imam Ar-Razi menjelaskan kesimpulan tafsir ayat yang mulia ini berkata: “Walhasil, seakan-akan dikatakan, ‘Wahai manusia! Jika kamu membenci hijrah dari tanah airmu hanya karena takut mendapatkan kesusahan dan ujian dalam per-jalananmu, maka sekali-kali jangan takut! Karena sesung-guhnya Allah akan memberimu berbagai nikmat yang agung dan pahala yang besar dalam hijrahmu. Hal yang ke-mudian menyebabkan kehinaan musuhmusuhmu dan men-jadi sebab bagi kelapangan hidupmu.”

Ada tambahan lagi beberpa pembuka pintu-pintu rezeki, yaitu :

1.  Menikah

Menikah merupakan salah satupintu pembuka rezeki, sebagaimana yang telah

dijanjikan oleh Allah swt :

فأنكحوا الأيامى منكم والصالحين من عبادكم وإمائكم إن يكونوا فقراء يغنهم الله من فضله، والله واسع عليم.النور: 32

Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang diantara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskan, Allah akan member kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah MAha Luas (pemberian-Nya), Lagi MAha Mengetahui.(An-Nur:32)

2.  Memperbanyak rasa syukur atas nikmat Allah

Rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah akan menambahkan

keridhoan Allah swt, sehingga Allah akan menambahkan kenikmatannya kepada kita :

لإن شكرتم لأزيدنكم ولإن كفرتم إن ذابي لشديد

Allah berfirman: “Jika kalian bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmat-Ku atasmu, tetapi jika kalian kufur sesungguhnya Azabku sangat pedih.” ( Ibrahim: 7).

3.  Mempelajari Al-Qur’an dan membenarkannya

Diantara hal yang memudahkan untuk membuka pintu rezeki adalah

Mempelajari Al-Qur’an dan membenarkannya, sebagaimana ancaman Allah kepada yang mendustakannya akan disempitkan rezekinya

ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون

ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشة ضنكا ونحشره يوم القيامة أعمى. قال رب لم حشرتني أعمى وقد كنت بصيرا. قال كذالك أتتك آياتنا فنسيتها، وكذالك اليوم تنسى

4.  Menjaga sholat fardhu

Diantara cara menjaga shalat lima waktu :

  • Melakukannya di awal waktu yang utama
  • Apabila laki-laki maka shalat di masjid
  • Apabila seorang kepala keluarga maka memerintahkan anggota keluarganya untuk mengerjakan shalat

وأْمُرْ أهلَك بالصلاة واصْطَبِرْ عليها لا نسألك رزقا نحن نرزقك ، والعاقبة للتقوى

Allah berfirman, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepada kalian. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Thaahaa : 132)

5.  Lurus dalam memegangi Islam.

Sebagaimana janji Allah dalam firmannya :

وأن لو استقاموا على الطريقة لأسقيناهم ماء غدقا

Allah berfirman, “Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).” (Al-Jin : 16

6. Berpagi-pagi dalam mencari ma’isyah.

Sebagaimana isyarat dari doa Nabi saw untuk umatnya:

اللهم بارك أمتي في بكورها.

“Ya Allah, berkahilah untuk ummatku waktu pagi mereka” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

7. MENCARI RIZKI DARI JALAN YANG HALAL
Salah satu yang mempengaruhi keberkahan ini ialah praktek riba. Perbuatan riba termasuk faktor yang dapat menghapus keberkahan.

يمحق الله الربا ويربي الصدقات، والله لا يحب كل كفار أثيم
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah, dan Allah tidak menyukai orang yang kafir lagi berdosa” (Al Baqarah: 276)
Dari Ibnu MAs’ud bersabda RAsulullah saw :

إن الربا وإن كثر فإن عاقبته تصير إلى قل

Sesungguhnya meskipun riba itu pada mulanya banyak, namun akhirnya ia menjadi sedikit. R. Ahmad disohihkan oleh AL-Albany dalam sohih al-jami’

Ada beberapa pintu-pintu rezeki yang banyak dilakukan sebagian orang, akan tetapi itu tidak ada dalil yang shohih bahkan menyimpang jauh dari agama..

Diantaranya:

1.  Membaca surat Al-Waqi’ah

Imam Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud berkata,”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang membaca surat al Waqi’ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan.”

Ibnu Katsir didalam mengawali penafsirannya tentang surat al Waqi’ah mengatakan bahwa Abu Ishaq mengatakan dari Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata : Abu Bakar berkata,”Wahai Rasulullah saw tampak dirimu telah beruban.” Beliau bersabda,”Yang (membuatku) beruban adalah surat Huud, al Waqi’ah, al Mursalat, عما يتساءلون (An Naba’, pen) dan إذا الشمس كورت.” Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dia berkata : ia adalah hasan ghorib.

Beliau mengatakan bahwa Al Hafizh Ibnu ‘Asakir didalam menerjemahkan Abdullah bin Mas’ud dengan sanadnya kepada Amr bin ar Robi’ bin Thariq al Mishriy : as Surriy bin Yahya asy Syaibaniy bercerita kepada kami dari Syuja’ dari Abu Zhobiyah berkata ketika Abdullah (bin Mas’ud) menderita sakit, ia dijenguk oleh Utsman bin ‘Affan dan bertanya,”Apa yang kau rasakan?” Abdullah berkata,”Dosa-dosaku.” Utsman bertanya,”Apa yang engkau inginkan?” Abdullah menjawab,”Rahmat Tuhanku.” Utsman berkata,”Apakah aku datangkan dokter untukmu.” Abdullah menjawab,”Dokter membuatku sakit.” Utsman berkata,”Apakah aku datangkan kepadamu pemberian?” Abdullah menjawab,”Aku tidak membutuhkannya.” Utsman berkata,”(Mungkin) untuk putri-putrimu sepeningalmu.” Abdullah menjawab,”Apakah engkau mengkhawairkan kemiskinan menimpa putri-putriku? Sesungguhnya aku telah memerintahkan putri-putriku membaca surat al Waqi’ah setiap malam. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang membaca surat al Waqi’ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya.”

Lalu Ibnu ‘Asakir mengatakan : begitulah dia mengatakan. Yang betul : dari Syuja’, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Wahab dari Surriy. Abdullah bin Wahab berkata bahwa as Surriy bin Yahya telah memberitahuku bahwa Syuja’ telah bercerita kepadanya dari Abi Zhobiyah dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata,”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang membaca surat al Waqi’ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya.” Dan Abu Zhobiyah pun tidak pernah meninggalkan dari membacanya.

Demikian pula Abu Ya’la meriwayatkan dari Ishaq bin Ibrahim dari Muhammad bin Munib dari as Surriy bin Yahya dari Syuja’ dari Abi Zhobiyah dari Ibnu Mas’ud. Kemudian Ishaq bin Abi Israil dari Muhammad dari Munib al ‘Adaniy dari as Surriy bin Yahya dari Abi Zhobiyah dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa membaca surat al Waqi’ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya.”, didalam sanadnya tidak disebutkan Syuja’. Ibnu Mas’ud mengatakan,”Sungguh aku telah memerintahkan putriku membacanya setiap malam.”
Ibnu ‘Asakir juga meriwayatkan dari hadits Hajjaj bin Nashir dan Utsman bin al Yaman dari as Sirriy bin Yahya dari Syuja’ dari Abu Fathimah berkata,”Abdullah mengalami sakit lalu Utsman bin ‘Affan datang mengunjunginya dan disebutkan hadits panjang ini. Utsman bin al Yaman berkata,”Abu Fathimah adalah hamba sahaya dari Ali bin Abu Thalib. (Tafsir al Quranil Azhim juz VII hal 512 – 513)

Tentang hadits diatas, Syeikh Al Bani mengatakan didalam kitab “Silsilatul Ahadits adh Dhaifah” /457 bahwa hadits itu dhoif.

Para ulama, seperti Ahmad, Abu Hatim, anaknya, Daruquthni, Baihaqi dan yang lainnya telah bersepakat bahwa hadits tersebut adalah lemah.

Begitupula dengan hadits yang diriwayatkan oleh ad Dailamiy dari Anas bahwa Rasulullah saw bersabda,”Surat al Waqi’ah adalah surat kekayaan maka bacalah dan ajarkanlah ia kepada anak-anakmu.” Hadits ini pun dinyatakan lemah oleh Al Banni didalam “Silsilah adh Dhaifah wal Maudhu’ah” (8/337)

Saat ditanya tentang hadits “Barangsiapa yang membaca surat al Waqi’ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan.selama-lamanya”, Syeikh Ibn Baaz mengatakan bahwa kami tidak mengetahui adanya jalan yang shahih bagi hadits ini… Akan tetapi (dibolehkan) membaca Al Qur’an yang dengan bacaannya menginginkan tafaaqquh (pemahaman) didalam agama dan mendapatkan berbagai kebaikan, karena Rasulullah saw bersabda,”Bacalah oleh kalian al Qur’an. Sesungguhnya Al Qur’an akan memberikan syafaat bagi para pemiliknya (orang-orang yang suka membacanya, pen) pada hari kiamat.”. Beliau saw juga bersabda,”Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan sama dengan sepuluh kebaikan.” Hendaklah seseorang membaca al Qur’an karena keutamaan membacanya dan untuk mendapatkan berbagai kebaikan bukan untuk mendapatkan dunia.” (http://www.binbaz.org.sa)

2. Meyakini bahwa perdagangan merupakan pintu yang paling banyak.

Ada sebuah hadits yang sering tersebar di kalangan orang awam sebagai motivasi untuk berbisnis atau menjadi pedagang. Namun, disayangkan hadits ini belum diletiti akan keshahihannya. Walaupun mungkin makna perkataan tersebut benar dan sah-sah saja. Akan tetapi, sangat tidak tepat jika kita menyandarkan suatu perkataan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau tidak pernah mengatakannya. Karena, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bersabda,

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari, no. 1291 dan Muslim, no. 3).

Hadits yang kami maksudkan di atas adalah hadits berikut ini,

تِسْعَةُ أَعْشَارِ الرِزْقِ فِي التِّجَارَةِ

Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan.

Sekarang kita akan meneliti shahih ataukah tidak hadits tersebut.

Perkataan Para Ulama Pakar Hadits

Dalam Al-Istidzkar (8/196), Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr mengisyaratkan bahwa hadits ini dha’if (lemah, ed.).

Dalam Al-Mughni ‘an Hamlil Asfar, Al-Hafizh Al-‘Iraqi pada hadits no. 1576 membawakan hadits,

عليكم بالتجارة فإن فيها تسعة أعشار الرزقة

Hendaklah kalian berdagang karena berdagang merupakan sembilan dari sepuluh pintu rezeki.

Diriwayatkan oleh Ibrahim Al-Harbi dalam Gharib Al-Hadits dari hadits Nu’aim bin ‘Abdirrahman,

تِسْعَةُ أَعْشَارِ الرِزْقِ فِي التِّجَارَةِ

Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan.”.Para perawinya tsiqah (kredibel). Nu’aim di sini dikatakan oleh Ibnu Mandah bahwa dia hidup di zaman sahabat, namun itu tidaklah benar. Abu Hatim Ar-Razi dan Ibnu Hibban mengatakan bahwa hadits ini memiliki taabi’ (penguat), sehingga haditsnya dapat dikatakan mursal [Hadits mursal adalah hadits yang dikatakan oleh seorang tabi’in langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebut sahabat. Hadits mursal adalah di antara hadits dha’if yang sifat sanadnya terputus (munqothi’)].

Dalam Dha’if Al-Jaami’ no. 2434, terdapat hadits di atas. Takrij dari Suyuthi: Dari Nu’aim bin ‘Abdirrahman Al-Azdi dan Yahya bin Jabir Ath-Tha’i, diriwayatkan secara mursal. Syaikh Al-Albani berkomentar hadits tersebut dha’if.

Hadits tersebut dikeluarkan pula oleh Ibnu Abid Dunya dalam Ishlah Al-Maal (hal. 73), dari Nu’aim bin ‘Abdirrahman.[1]

Conclusion: Hadits tersebut adalah dha’if sehingga tidak bisa disandarkan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun maknanya mungkin saja benar. Wallahu a’lam bish shawab.

Penjelasan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al-Jibrin

Beliau ditanya, “Apakah hadits ini shahih, yaitu ‘perdagangan adalah sembilan dari sepuluh pintu rezeki’ sebagaimana yang selama ini sering kami dengar?”

Syaikh rahimahullah menjawab, “Aku tidak mendapati hadits tersebut dalam kitab-kitab hadits seperti Jaami’ Al-Ushul, Majma’ Az-Zawaid, At-Targhib wa At-Tarhib dan semacamnya. Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abdirrahman Al-Washabi menyebutkan dalam kitabnya Al-Barakah fis Sa’yil Harakah halaman 193, beliau menegaskan bahwa hadits tersebut marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Beliau juga menyebutkan beberapa hadits dha’if, namun beliau tidak melakukan takhrij terhadapnya. Sebenarnya hadits tersebut tidak diriwayatkan dalam kitab shahih, kitab sunan, maupun musnad yang masyhur. Yang nampak jelas, hadits tersebut adalah hadits dha’if. Mungkin saja hadits tersebut mauquf (sampai pada sahabat), maqthu’ (hanya sampai pada tabi’in) atau hanya perkataan para ahli hikmah. Perkataan tersebut boleh jadi adalah perkataan sebagian orang mengenai keuntungan dari seseorang yang mencari nafkah lewat perdagangan.

Sebenarnya, telah terdapat beberapa hadits dalam masalah berdagang yang menyebutkan keutamaanya dan juga menyebutkan bagaimana adab-adabnya sebagaimana disebutkan dalam kitab At-Targhib wa At-Tarhib, yang disusun oleh Al-Mundziri, juga dalam kitab lainnya. Di antara hadits yang memotivasi untuk berdagang adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang,” (Muttafaqun ‘alaih)[2]

Juga pada hadits,

أَطْيَبُ الْكَسْبِ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seorang pria dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Ahmad, Al-Bazzar, Ath-Thabrani dan selainnya, dari Ibnu ‘Umar, Rafi’ bin Khudaij, Abu Burdah bin Niyar dan selainnya). Wallahu a’lam.[3]

Untuk motivasi dalam berbisnis atau berdagang lainnya, silakan simak artikel rumaysho.com: http://rumaysho.com/hukum-islam/muamalah/3055-meraih-berkah-menjadi-pebisnis-muda.html.

3. Mencari kekayaan dengan bantuan Jin (pesugihan.Hal ini termasuk perbuatan syirik.

Sewbagaimana firman Allah:

وأنه كان رجال من الإنس يعوذون برجال من الجن فزاداهم رهقا

“(Berkata Jin) Dan bahwasanya ada segolongan laki-laki dari manusia meminta pertoongan kepada segolongan Jin, tetapi maka mereka (jin)menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.” (al-Jin: 6)

4. Mencari kekayaan dengan minta ramalan petunjuk para normal/kahin (duku-dukun).

قال النبي صلى الله عليه وسلم من أتى كاهنا فيصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد.

“Bersabda NAbi saw: Barangsiapa mendatangi paranormal (dukun) lalu membenarkannya sungguh dia telah kafir dengan apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.” (R Abu Dawud, An-NAsa’I dan At-tirmidzi disohihkan oleh AL-Albany)

5. Mencari rezeki dengan ramalan bintang.

عن رججاء بن حيوة أن النبي صلى الله عليه وسلم إن أخاف على أمتي : التصديق بالنجوم والتكذيب بالقدر وحيف الأئمةرواه عبد بن حميد وصححه الألباني

6. Dengan dzikir-dzikir yang tidak disyari’atkan

Maraji’ :

1. Kutaib Mafatihur Rizq oleh DR. Fadhl Ilahi Dhohir

2. Tafsir Ibnu Katsir

3. Al-Maktabah Asy-Syamilah

4. Risalah khutbah Ust. Dzul qornain

5. Fathul Majid Syarah kitabut Tauhid Syaikh Abdurrohman Alu Syaikh

6. Taudhihul Alhkam min Bulughil Maram Syaikh Abdullah Alu Bassam

7. Fatawa Syaikh Abdul Aziz bin Baz.

8. Tulisan di beberapa blog internet

Skripsi Masruhin

HUBUNGAN KELENGKAPAN SARANA BELAJAR DENGAN PRESTASI SISWA KELAS VI MIM IV  “ULUM ISLAMIYAH” TUBAN PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM

SKRIPSI

Oleh :

MASRUKIN

Nimko : 2007.4.025.0001.1.01999

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MAKHDUM IBRAHIM (STITMA) TUBAN

2010

LEMBAR PERSETUJUAN

Tuban, 22 Januari 2011

Nota                : Persetujuan

Lampiran       : 3 Exemplar Skripsi

Hal                  : Bimbingan Skripsi

Kepada :

Yth. Bapak Ketua STITMA

Jl. Manunggal 10-12 Tuban

Di Tempat

Assalamu ’alaikum Wr. Wb.

Setelah diadakan pemeriksaan, penelitian dan perbaikan seperlunya, maka saya berpendapat bahwa skripsi saudara :

Nama                         : Masrukin

NIMKO           : 2007.4.025.0001.1.01999

Tempat           : Kampus STITMA

Jl. Manunggal 10-12 Tuban

Hari/Tanggal : Sabtu, 22 Januari 2011

Judul              : HUBUNGAN KELENGKAPAN SARANA BELAJAR

DENGAN PRESTASI SISWA KELAS VI MIM IV  “ULUM ISLAMIYAH” TUBAN PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM.

Telah dapat diajukan sebagai syarat penempuhan ujian untuk memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam Strata – 1 pada sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Makhdum Ibrahim Tuban.

Saya mohon agar skripsi ini dapat diterima dan mendapatkan pengesahan dari Fakultas Tarbiyah STITMA Tuban.

Dosen Pembimbing

Drs. Abdurrohman Ghany, M.Pd.I

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI

Skripsi ini dipertahankan di hadapan dewan penguji Skripsi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Makhdum Ibrahim Tuban pada :

Hari                 : Ahad

Tanggal         : 6 Pebruari 2011

Tempat           : Kampus STITMA Tuban

Program         : S1 / PAI

Setelah diterima untuk memenuhi syarat-syarat guna memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) dalam Program Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Makhdum Ibrahim Tuban.

Tuban,

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Makhdum Ibrahim (STITMA) Tuban

Drs. Abdurohman Ghany, M.Pd.I

Dewan Penguji:

  1. Drs. Jamaludin, M.Pd                        ( _____________________ )
  1. Drs. H.M Rois Shofwan, M.Pd.I        ( _____________________ )


MOTTO

…. وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمًٌ إنَّ السَمْعَ وَالْبَصَرَ وَاْلفُؤَادَ كُلُّ أولَـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤوْلاًٍ……

…. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki ilmu dengannya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggung jawaban dengannya ……

SKRIPSI INI KU PERUNTUKKAN

1.  Orang tuaku yang telah mengasuh dan mendidikku

2.  Para dosen STITMA Tuban yang telah membimbingku

3.  Istriku dan anak-anakku yang selalu menjadi inspirasikuai

4.   Saudara dan tema-temanku yang selalu membantuku dan memotivasiku

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah, peneliti panjatkan ke hadirat Allah subhanahu wata’ala, Tuhan Yang Maha Esa, yang selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusunan Skripsi ini dapat terselesaikan pada waktunya.

Skripsi yang berjudul “HUBUNGAN KELENGKAPAN SARANA BELAJAR DENGAN PRESTASI SISWA KELAS VI MIM IV  “ULUM ISLAMIYAH” TUBAN PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM” ini, disusun untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Pendidikan Agama S1

Dalam penyusunan dan penyelesaian Skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada:

  1. Yth. Bapak Drs. Abdurrohman Ghany, M.Pd.I, Rektor Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Makhdum Ibrahim (STITMA) Tuban sekaligus sebagai dosen pembimbing skripsi ini
  2. Yth. Bapak Drs. Damam Purwanto Kepala MI Muhammdiyah IV ”Ulum Islamiyah” Tuban
  3. Rekan-rekan Mahasiswa STITMA yang membantu penulisan skripsi
  4. Istriku yang trercinta, yang selalu mendorong dan mendampingiku dalam penulisan skripsi
  5. Semua pihak yang telah banyak membantu sehingga penulisan ini selesai

Penulis menyadari bahwa hasil penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat peneliti harapkan demi kesempurnaan penelitian ini dan demi penelitian yang akan datang.

Tuban, 22 Januari 2010

Penulis


ABSTRAK

“HUBUNGAN KELENGKAPAN SARANA BELAJAR DENGAN PRESTASI SISWA KELAS VI MIM IV  “ULUM ISLAMIYAH” TUBAN PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM

Kata Kunci: Kelengkapan Sarana Belajar, Prestasi Siswa

Keberhasilan proses belajar mengajar di dalam kelas sangat ditentukan oleh kelengkapan sarana dan prasarana belajar, bagaimanapun lengkap dan jelasnya komponen lain, tanpa diimbangi dengan kelengkapan sarana dan prasarana belajar maka komponen-komponen tersebut tidak akan dapat memaksimalkan out put sebuah lembaga pendidikan. Oleh karena itu setiap lembaga pendidikan hendaknya semaksimal mungkin mewujudkan sarana prasarana belajarnya yang lengkap untuk menghasilkan anak didik yang bermutu.

Penelitian ini berdasarkan permasalahan: (a) Bagaimanakah kelengkapan sarana belajar MI Muhammadiyah IV ”Ulum Islamiyah”  Tuban? (b) Adakah pengaruh kelengkapan sarana belajar MI Muhammadiyah IV ”Ulum Islamiyah” Tuban dengan prestasi belajar siswa kelas VI dibidang Sejarah Kebudayaan Islam?

Jadi, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kelengkapan sarana belajar  terhadap prestasi belajar Sejarah Kebudayaan Islam pada siswa kelas VI MI Muhammadiyah IV ”Ulum Islamiyah” Tuban Tahun Pelajaran 2010/2011. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas VI MI Muhammadiyah IV ‘Ulum Islamiyah” Tuban tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 30 siswa dan sampel penelitian semua siswa. Pengumpulan data menggunakan angket untuk data mengenai kelengkapan sarana belajar,  dan dokumentasi untuk data mengenai prestasi belajar Sejarah Kebudayaan Islam.

Dalam penelitian ini data yang terkumpul kemudian dianalisis Dari hasil konsultasi kepada tabel harga kritik product moment juga menunjukkan hasil yang signifikan. Dengan demikian hipotesis yang diajukan penulis, yaitu “Ada hubungan yang signifikan antara kelengkapan sarana belajar dengan prestasi siswa kelas VI dalam mata pelajaran Sejarah Islam di MI Muhammadiyah IV “Ulum Islamiyah” Tuban semester ganjil tahun pelajaran 2010/2011” dapat diterima karena teruji kebenarannya dengan analisis korelasi product moment. sehingga nampak bahwa variabel kelengkapan sarana belajar memiliki pengaruh yang besar terhadap prestasi belajar Sejarah Kebudayaan Islam. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh positif yang signifikan dari kelengkapan sarana belajar terhadap prestasi belajar Sejarah Kebudayaan Islam. Sehingga semakin lengkap sarana dan prasarana belajar semakin tinggi pula prestasi belajarnya.

Simpulan dari penelitian ini adalah kelengkapan sarana belajar sangat berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa kelas VI di MI Muhammadiyah IV ”Ulum Islamiyah” Tuban Tahun Pelajaran 2010/2011,

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul ……………………………………………………………………………………….. i

Lembar Persetujuan……………………………………………………………………       ii

Lembar Pengesahan …………………………………………………………………………….. iii

Motto ……………………………………………………………………………………………………… iv

Kata Pengantar ………………………………………………………………………………………. v

Abstrak ………………………………………………………………………………………………….. vii

Daftar Isi ………………………………………………………………………………………………. viii

Daftar Lampiran ……………………………………………………………………………………… x

BAB  I       PENDAHULUAN ……………………………………………………………………. 1

A.   Latar Belakang Masalah …………………………………………………… 1

B.   Rumusan Masalah …………………………………………………………… 3

C.   Tujuan Penelitian …………………………………………………………….. 3

D.   Hipotesis Penelitian …………………………………………….. 4

E.   Manfaat Penelitian ……………………………………………………………. 5

F.    Asumsi Penelitian ………………………………………………. 6

G.   Ruang lingkup dan Keterbatasn Penelitian ………………….. 7

H.   Definisi Istilah atau Definisi Operasional …………………..       8

I.      Sistematika Pembahasan ………………………………………………. 10

BAB  II      KAJIAN PUSTAKA ………………………………………………………………. 13

A.   Tinjauan Sarana Belajar ………………………………………………… 13

1. Pengertian Sarana Belajar ……………………………..                     13

2. Jenis-jenis Sarana Belajar ………………………………… 15

3. Kelengkapan Sarana Belajar ………………………………….             22

B.   Standar Kelengkapan Sarana Belajar dari PERMEN

DIKNAS ………………………………………………………… 31

C.   Masalah Prestasi Belajar ……………………………………………. …. 49

1. Pengertian Prestasi Belajar  ……………………………    49

2. Jenis-jenis Prestasi Belajar ………………………………. 50

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar…     51

D.   Hubungan Kelengkapan Sarana Belajar dengan

Prestasi Siswa ………………………………………………………………… 24

BAB  III     METODOLOGI PENELITIAN ………………………………………………… 54

A.   Rancangan Penelitian ……………………………………………………. 57

1. Deduktif……………………………………………………    57

2. Induktif …………………………………………………………..             57

3. Komprehensif ……………………………………………                     58

B.   Populasi dan Sampel ……………………………………………………… 58

1. Populasi …………………………………………………….. 58

2. Sampel ………………………………………………………. 59

C.   Instrumen Penelitian ………………………………………………………. 59

1. Library Research ……………………………………………. 59

2. Field Research ……………………………………………… 59

D.   Metode Pengumpulan Data ……………………………………………. 61

1. Metode Observasi ………………………………………….. 61

2. Metode Interview ……………………………………………. 61

3. Metode Dokumentasi ………………………………………. 62

4. Metode Quistionare ………………………………………… 62

E.   Analisa Data …………………………………………………… 63

1. Analisis Kualitatif …………………………………………… 63

2. Analisis Kuantitatif …………………………………………. 63

BAB  IV    LAPORAN HASIL PENELITIAN …………………………………………… 65

A. Letak Geografis ………………………………………………………………… 65

1. Letak MIM IV ”Ulum Islamiyah” Tuban ……………………. 65

2. Struktur Organisasi Sekolah ……………………………………….. 66

B. Data-Data Penelitian …………………………………………………… 69

1. Kelengkapan Sarana Belajar di MIM IV ”Ulum

Islamiyah” Tuban ………………………………………………………… 69

2. Data Nilai Hasil Prestasi siswa kelas VI semester

Ganjil 2010/2011 dalam bidang Sejarah Kebuyaan

Islam …………………………………………………………………………… 72

C. Analisis Data…………………………………………………………………….. 74

D. Uji Hipotesa …………………………………………………………………. 77

E. Pembahasan ……………………………………………………………….. 78

BAB  V     PENUTUP ……………………………………………………………………………. 80

A.   Kesimpulan …………………………………………………………………….. 80

B.   Saran-Saran …………………………………………………………………… 81

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………….. 82

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran                                                                                         Halaman

Lampiran Tabel Product Moment …………………………………………………………. 84

Pernyataan Keaslian Tulisan   …………………………………………………………….. 85

Surat Permohonan Penelitian …………………………………………………………….. 86

Angket Penelitian ………………………………………………………………………………… 87

Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ………………………………. 89

Kartu Bimbingan Skripsi ………………………………………………………………….. 90

Riwayat Hidup …………………………………………………………………………………. 91

Pengumuman kajian bulanan

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuhu,

Kaum Muslimin Yang Di Rahmati Alloh ‘Azza wa Jalla

Hadirilah Pengajian Umum yang diselenggarakan oleh Yayasan Firqottun Najiyyah Tuban pada hari Ahad, tgl. 30 Oktober 2011 jam 08.30 WIB – selesai, dengan materi “BERILMU TAK BERAMAL, BERAMAL TAK BERILMU” dengan Pembicara Al Ustadz Fadhlan Fahamsyah, Lc. Staf pengajar STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya. Bertempat di Masjid Baiturrohman (Belakang Pasar Sepeda / PDS) Gedung Ombo Semanding Tuban Jawa Timur.

Semoga kehadiran antum sekalian menjadi catatan amal shalih di akhirat kelak, aamiin.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuhu,

Spirulina

SPIRULINA adalah sumber nutrisi 100% alami dan merupakan makanan yang bersifat alkali, agar tubuh tetap sehat, sangat penting bagi kita untuk mengkonsumsi makanan sehari-hari dengan proporsi seimbang antara 80% makanan ber-alkali dan 20% makanan bersifat asam.

Tubuh yang sehat mengandung alkali yang rendah (PH 7.3-7.4)

APA ITU SPIRULINA?

Spirulina adalah tumbuhan Mikro Ganggang yang telah hidup sejak 3,6 milyar tahun yang lalu. Spirulina merupakan sumber nutrisi alami yang paling lengkap dibandingkan dengan sumber nutrisi lain yang pernah ada.

KANDUNGAN NUTRISI SPIRULINA

Secara umum Spirulina memiliki kandungan sebagai berikut:

60 – 70% Protein

20 – 25% Karbohidrat

3 – 5% Lemak

5 – 8% Mineral dan Vitamin

2 – 5% Air

Pigmen

MANFAAT SPIRULINA

Spirulina adalah sumber nutrisi 100% alami dan merupakan makanan yang bersifat alkali. Agar tubuh tetap sehat, sangat penting bagi kita untuk mengkonsumsi makanan sehari-hari dengan proporsi seimbang antara 80% makanan ber-alkali dan 20% makanan bersifat asam.

Tubuh yang sehat mengandung alkali yang rendah (PH 7.3 – 7.4).

SPIRULINA MEMPUNYAI BEBERAPA KELEBIHAN:

* Menstabilkan jumlah sel-sel darah merah, sel-sel darah putih dan hemoglobin.

* Memenuhi kebutuhan nutrisi dalam tubuh.

* Mengurangi efek samping terhambatnya produksi stem sel, (sel-sel penghasil sel darah)

* Mengurangi efek yang tidak baik dari kemoterapi, seperti kepala pusing, tidak nafsu makan, sukar tidur, mual muntah, tenggorokan kering ataupun nervous.

SIAPA SAJA YANG MEMBUTUHKAN SPIRULINA?

Secara umum Spirulina dibutuhkan oleh semua golongan usia:

* Anak-anak.

* Dewasa.

* Dan orang tua yang peduli akan kesehatan.

Khususnya yang termasuk ke dalam kelompok:

* Dalam masa pertumbuhan.

* Penderita stress, depresi.

* Mereka yang cepat letih, lelah, lesu, lemah.

* Mereka yang dalam masa pemulihan fisik karena sakit atau operasi.

* Mereka yang sedang dalam proses diet kesehatan (menekan kadar Kolesterol, Trigliserida, Hypertensi dan gula darah).

* Penderita Maag, Gastritis dan gangguan pencernaan lainnya.(http://k-link.co.id)

Spirulina yang dipasarkan dalam berbagai kemasan di tanahair memang semuanya impor, antara lain dari Cina, Jepang, India, dan Amerika Serikat. Di Indonesia bukannya tidak ada tempat cocok untuk pengembangbiakan makhluk berukuran mikroskopik itu. Alasan belum ada investor yang memandang spirulina sebagai makanan kesehatan itulah yang paling tepat dikedepankan.

Memang tidak banyak tempat bisa dijadikan ladang pengkulturan spirulina. Jasad liliput itu butuh persyaratan spesifik untuk hidupnya. Selain perairan basa, pH di atas 8,5, tempat itu harus steril dari pencemaran udara, seperti debu dan zat-zat kimia berbahaya. Bahkan menurut Prof Riset I Nyoman Kabinawa, ahli teknologi kultur mikroalga Indonesia, lingkungan pun harus tenang (http://www.kesehatan-alami.com/sea-cucumber-spirulina-olah-spirulina.php)

Gempur batu ginjal dengan herbal

Batu ginjal atau dalam istilah medis disebut Nefroli tiasis cukup besar, khususnya di Indonesia. Mengapa bisa terbentuk batu dalam ginjal.

Jenis-jenis batu di ginjal ada bermacam-macam: selengkapnya tentang Gempur batu ginjal dengan herbal→

Sarang semut terbukti tumpas kanker & berbagai penyakit berat !!!

Fakta tentang sarang semut : bebas dari kanker tanpa perlu operasi, kemoterapi, dan bioksi hanya dalam waktu hitungan bulan saja !!. juga terbukti ampuh mengatasi tumor, TBC, diabetes, Hipertensi, Lever, Asam urat, jantung koroner, dan berbagai penyakit berat lainnya. Sarang Dikonsumsi oleh ribuan orang dan terus bertambah sejak diperkenalkan sejak 6 tahun lalu.

Apakah sarang semut itu? selengkapnya tentang Sarang semut terbukti tumpas kanker & berbagai penyakit berat !!!→

Deabetofit, herbal kencing manis (Diabetes melitus)

Penyakit kencing manis (diabetes melitus)dikenal sebagai penyakit seumur hidup, karena biasanya penanganannya membutuhkan waktu yang lama. dikarenakan sebagaian besar penyebab diabetes melitus adalah resistansiinsulin (zat yang mengatur pemasukkan glukosa ke organ-organ), sehingga terjadi kadar gula yang berlabih dalam darah. Ad Dawa’s Research mempersembahkan DEABETOFIT yang diekstrak dari bittermelon dan Androgaphis Paniculata yang mampu memenuhi kebutuhan insulin anda sehingga dapat melancarkan pemasukkan glukosa ke dalam organ menjadi tidak berlebih di dalam darah dan kadar gula darah anda menjadi normal -insya Alloh-.
Deabetofit juga bermanfaat untuk:

  • anti kanker, anti virus, hepatitis, dan penurun
  • hipertensi dan anti aids

Pro Estrogen, sahabat setia di masa menopouse

Masa menopouse merupakan momok bagi sebagian besar wanita (umur40-50th), karena masa ini tidak terjadi ketidak seimbangan hormon dan penurunannhormon estrogen, sehingga menyebabkan berbagai gangguan, diantaranya; selengkapnya tentang Pro Estrogen, sahabat setia di masa menopouse→

MINYAK IKAN HIU (SQUALENE), EKSTRAK HATI IKAN HIU BOTOL YANG AJAIB

Mengapa Ajaib?

Karena ikan hiu botol mampu hidup di dasar samudera dengan kedalaman 300-1000 m dibawah permukaan air laut, dimana tidak terjangkau sinar matahari, miskin O2 & dengan tekanan air yang besar. Semua keajaiban ini terletak pada hatinya yang besarnya 40% dari berat badannya sedangkan hati manusia hanya 2-4% dari Berat Badan (BB).
selengkapnya tentang MINYAK IKAN HIU (SQUALENE), EKSTRAK HATI IKAN HIU BOTOL YANG AJAIB→