Romadhon Syahrul Qur’an telah berlalu.
Akan tetapi semangat untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai nidhomul hayat tidak boleh luntur sedikitpun.

Berkata Imam Abul ‘Izzi Al-Hanafy,
“Tanda-tanda sakitnya hati adalah berpalingnya hati dari makanan yang bermanfaat kepada makanan yang membahayakan, dan berpalingnya  hati dari obat yang bermanfaat kepada obat yang membahayakan. Dengan demikian, maka disini ada 4 hal : makanan yang bermanfaat, obat yang dapat menyembuhkan, makanan yang membahayakan dan obat yang membinasakan.
Hati yang sehat akan sangat merasakan sesuatu yang bermanfaat lagi menyembuhkan daripada obat yang membahayakan lagi menyakitkan, sebaliknya hati yang sakit akan merespon sebaliknya.
Makanan yang paling bermanfaat adalah makanan iman, sedangkan obat yang paling bermanfaat adalah obat berupa Al-Qur’an. Masing-masing dari kedua hal itu terdapat makanannya dan obatnya. Barangsiapa mencari kesembuhan pada selain Al-Qur’an dan As-Sunnah maka dia menjadi orang bodoh yang paling bodoh, dan menjadi orang tersesat yang paling sesat.
قل هو للذين آمنوا هدى وشفاء. والذين لا يؤمنون في آذانهم وقر وهو عليهم عمى. أولئك ينادون من مكان بعيد. فصلت:42
Allah swt berfirman,
“ Katakanlah Al-Quran petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman didalam telinga-telinga mereka ada sumbatan, dan (Al-Qur’an) itu merupakan kegelapan bagi mereka. Mereka itu seperti orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (Fushshilat:44).
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rohamt bagi orang-orang yang beriman. Sedangakan bagi orang-orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya menambahkan bagi orang-orang yang zalim kerugian.”(Al-Isro:82).

Allah juga berfirman dalam ayat lain,” Wahai manusia telah dating kepada kalian pelajaran (Al-Qur’an) dari Rabb-mu,  obat bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang  mukmin” (Yunus:57)

Al-Qur’an adalah obat yang paling sempurna diantara semua obat hati maupun jasmani, juga merupakan obat dunia dan akhirat, dan apa saja yang ahli untuk berobat dengannya.
Apabila seorang yang sakit tepat dalam berobat dengannya, dan meletakkan atas penyakitnya dengan kejujuran dan keimanan dan penerimaaan sepenuh hati, dan meyakini dengan keyakinan yang dalam dan  terpenuhi syarat-syaratnya maka tidak aka ada penyakit yang mampu menembusnya selamanya.
Bagaimana akan bisa menandingi berbagai macam penyakit itu terhadap kalam (firman) (Tuhan)-nya langit dan bumi, yang seandainya dia (Al-Qur’an) ini diturunkan kegunung niscaya dia akan meleleh, atau diturunkan diatas bumi niscaya dia akan menghamburkannya?! Maka tidak ada satupun penyakit diantara penyakit-penyakit hati dan fisik melainkan didalam Al-Qur’an  ada jalan yang menunjukkan untuk pengobatannya, dan sebab-sebab untuk bisa menangkalnya bagi orang-orang yang diberi pemahaman terhadap kitab Al-Qur’an ini.” Wallau a’lam.

Sumber : Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyah.